Info Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Video Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Berbagi Foto Wisata
Amazing Malang

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/wwwkemas/public_html/amazingmalang.com/administrator/components/com_sppagebuilder/helpers/sppagebuilder.php on line 156

Munich – Obertraun (Hallstatt)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Munich – Obertraun (Hallstatt)

 

Tengah malam terbangun oleh suara pintu kompartemen yang dibuka dengan keras dan sejurus kemudian terdengar suara, “passport and ticket please”. Dengan mata setengah terpejam, tangan saya merogoh-rogoh bawah bantal tempat terakhir kali saya menyimpan paspor dan tiket dan ternyata mereka TIDAK ADA. What ? ?.. Mata yang tadinya setengah merem langsung melek 100 watt, dimana? dimana?. Pas mencoba duduk langsung DUK, kepala kejeduk langit-langit. Tanpa sadar saya langsung berteriak keras “WADOH”, kontan 5 penumpang, kondektur dan petugas keamanan perbatasan semuanya pada menengok keatas. Mungkin mereka berpikir, bahasa apa “wadoh” itu ?. Sambil menggosok-nggosok kepala yang sakit saya merasakan ada yang mengganjal di perut. Rupanya tanpa sadar saya sudah memindahkan paspor dan tiket dari bawah bantal ke kantong baju dalam. Langsung deh umek membuka selimut, jaket, sweater dan kaos masih ditambah perjuangan membuka resleting kantong baju dalam yang macet (duh). Akhirnya sambil keringatan saya mengulurkan paspor dan tiket pada petugas dibawah (pheww). Setelah selesai, mereka mengucapkan terima kasih dan berlalu dari situ. Secepat mereka datang secepat itu pulalah mereka pergi sampai seperti mimpi saja.

Hallstatt

Hallstatt

Tanpa terasa saya kembali hanyut dalam mimpi merasakan enaknya

naik kereta tidur. Ini pertama kalinya saya naik kereta tidur untuk perjalanan malam yang panjang. Biasanya saya dan suami akan memilih naik bis yang harganya lebih murah. Tapi demi ibu tercinta bolehlah sekali ini kami membuat pengecualian. Enak juga ternyata pergi dengan ibu karena bisa dijadikan alasan untuk sedikit kemewahan  . Rasanya sudah lama sekali tidur, ketika saya merasakan keretanya berhenti. “Ah paling cuma menaik turunkan penumpang”, pikir saya. Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kereta masih belum jalan juga. Penasaran sekaligus kepanasan karena AC nya mati, saya turun dari tempat tidur dan melihat keluar. Kami sampai di stasiun Mannheim dan kereta berhenti cukup lama untuk menunggu lokomotif penariknya. Saya memang pernah membaca di suatu artikel kalau jalur City Night Line ini menerapkan sistim Through Coach dimana dalam suatu rangkaian perjalanan dia akan ditarik bergantian oleh dua kereta yang berbeda. Sebagai contoh misal dari Amsterdam berangkat dua kereta dengan dua jurusan yang berbeda, satu jurusan Amsterdam – Munich dan satu lagi Amsterdam – Zurich. Dari Amsterdam mereka akan berangkat bersama-sama dalam satu rangkaian, sampai di Manheim mereka akan berpisah. Kereta menuju Munich akan bergabung dengan kereta dari Paris dengan tujuan Munich, sedangkan kereta menuju Zurich akan bergabung dengan kereta dari Hamburg. Dengan sistem ini penumpang tidak perlu berpindah kereta dan perusahaan kereta api juga tertolong dengan efisiensinya.

Transportasi Dari Munich Ke Obertraun

Kereta kami tiba di stasiun Munich HBF sekitar pukul 07.10 pagi hari. Dua jam sebelum tiba, kami membasuh muka di toilet kereta dan makan nasi putih dengan abon yang dibawa dari Indonesia. Jadi setiba di Munich HBF langsung siap lari-lari mencari kereta menuju Salzburg. Sebenarnya tujuan utama saya adalah Hallstaat, tapi untuk menuju kota ini dari Amsterdam saya harus turun dan berganti kereta di 4 kota  yaitu Munich, Salzburg, Attnang Puchheim dan Obertraun. Mulanya saya pesimis bisa sampai kesini, tapi melihat foto-fotonya yang menawan dan selalu wira-wiri di wallpaper komputer, akhirnya saya bertekad harus sampai di kota ini. Saat akan memesan penginapan di Hallstaat baru saya sadar kalau disana hotelnya mahal-mahal, akhirnya pilihan jatuh pada kota terdekat yaitu Obertraun. Transportasi dari Munich menuju Obertraun dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Perlu diingat bahwa nomor kereta bisa berubah tergantung jam dan bulan tapi nama stasiun tempat naik turunnya tetap sama jadi jangan lupa dicocokkan kembali dengan Eurail Time Table atau Google Map.

untitled2

Akomodasi di Obertraun

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam, akhirnya sampailah kami di Obertraun. Perjalanannya cukup menyenangkan karena begitu masuk Austria pemandangan di luar sudah berubah menjadi pegunungan dan padang-padang hijau serta rumah-rumah kayu yang nyaman. Persis seperti bayangan saya tentang rumah Heidi yang komiknya sering saya baca waktu kecil. Di Obertraun ini hanya satu penginapan yang masuk dalam kriteria saya yaitu murah dan dekat dengan stasiun kereta. Dekatnya pun masih berjarak 400 mt. Nama penginapannya agak susah dan panjang yaitu Seehotel am Hallstattersee yang saya pesan melalui Agoda.com . Tipe kamar yang saya pesan adalah Triple Room dengan rate 32 Euro (Rp.527.950) per orang permalam sudah termasuk makan pagi. Peta jalan kaki dari stasiun menuju hotel bisa dilihat pada gambar dibawah ini.

                                     

Obertraun adalah sebuah desa berjarak kurang lebih 5.5 km dari Hallstatt. Walaupun tidak seterkenal Hallstaat bagi saya Obertraun merupakan desa yang menarik. Tempatnya sunyi dan terlihat nyaman cocok bagi pensiunan dan orang-orang tua. Bayangkan saja saat jalan kaki dari stasiun ke hotel tidak satupun orang tampak dijalan. Hanya kami bertiga dan suara koper beroda ibu yang membuat suasana tenang menjadi berisik. Sampai di depan hotel pun saya sempat ragu, benarkah ini hotelnya?. Kok tidak kelihatan satu orang pun dan pintu depannya mirip rumah biasa. Tidak ada bel, tidak ada tulisan besar hanya tanda di peta offline Maps With Me telah menunjukkan arah yang tepat. Setelah berunding sejenak, akhirnya saya memberanikan diri membuka pintu dan masuk kedalam rumah sambil berteriak, “Excuse Me”. Tetap tidak ada sahutan. Kami semua akhirnya masuk dengan berisik dan sampai ke ruang tengah yang mirip resepsionis. Sampai sejauh ini tetap tidak terlihat satu orangpun persis seperti di film-film horor saja. Tiba di meja yang saya duga adalah meja resepsionis terpampang tulisan kalau resepsionisnya sedang istirahat, bagi yang berkepentingan bisa kembali saat jam istirahat usai. Duh padahal kita maunya nitip barang dulu dan langsung cap cus menjelajah Hallstaat. Tapi tepat sebelum berbalik saya membaca tulisan yang menyebut nama saya. Intinya, resepsionis meminta maaf karena sedang istirahat, kalau saya sudah datang dan mau menitip barang bisa diletakkan saja disitu (disediakan bagtag dengan nama). Hah, baru kali ini saya dapat surat cinta dari resepsionis. Akhirnya untuk memberitahukan kalau sudah datang saya balas juga surat cintanya dengan memberitahu kalau kami akan check inn agak malam karena akan langsung menjelajah Hallstatt.

Pintu Mauk Hotel (Kiri) dan Meja Resepsionisnya (kanan)

Pintu Masuk Hotel (Kiri) dan Meja Resepsionisnya (kanan)

Terlepas dari sepinya, belakangan setelah check inn ternyata hotel ini banyak kelebihannya loh. Kelebihannya antara lain bersih, nyaman, dapat makan pagi, tersedia handuk dan toiletries serta banyak colokan di kamar. Satu lagi nilai plusnya adalah pemandangan yang indah ke arah pegunungan Dachstein Mountains. Saat bangun pagi-pagi dan membuka jendela kamar, langsung terpampang jajaran gunung yang hijau dengan lapisan es diatasnya. Sedap. Saking indahnya tanpa sadar saya langsung berucap, “coba kalau setiap pagi aku dapat pemandangan seindah ini”. “Kalau setiap pagi kamu dapat pemandangan seperti ini, kamu akan terbiasa dan lupa akan keindahannya”, kata suami saya sambil lalu. Bah, benar juga. Kekuranganhotel ini hanya satu yaitu tidak ada fasilitas dapurnya (he he tentu saja namanya saja hotel). Jadi untuk makan malam dan makan pagi kami menggunakan rice cooker di kamar untuk memasak.

Kamar Kami dan Kamar Mandinya

Kamar Kami dan Kamar Mandinya

Jadi setelah meninggalkan backpack dan koper di resepsionis kami kembali ke stasiun untuk menunggu bis menuju Hallstaat. Seperti juga berangkatnya tidak ada satu orang pun di jalan yang kita temui, benar-benar sepi seperti kota mati. Saat berjalan kaki menuju stasiun saya tertarik oleh sebuah rumah dengan sudut belakangnya yang indah. Untuk menuju tempat itu sayangnya saya harus menyeberangi jalanan berumput. Pas saya injak rumputnya rasanya nyes nyes empuk sekali sampai saya heran ini jenis rumputnya atau iklimnya yang membuat rumput saja terasa seperti karpet saking empuknya 

Tranportasi dari Obertraun ke Hallstatt

Untuk menuju Hallstaat dari Obertraun sebenarnya ada dua pilihan transportasi. Pertama naik kereta api disambung ferry yang akan menyeberangi danau Hallstaat. Untuk itu dari stasiun Obertraun kita naik kereta REX atau RE arah Linz/Donau Hbf turun di Hallstatt Bahnhof yang disambung dengan naik ferry menuju Hallstatt. Jadwal ferry disesuaikan dengan jam kedatangan dan keberangkatan kereta api yang bisa dilihat disini . Sayangnya saya hanya mencoba cara yang kedua yaitu naik bis. Ada 2 nomor bis yang melayani jalur Obertraun – Hallstatt yaitu nomor 542 dan 543. Keduanya berhenti di 4 halte Obertraun yaitu di Obertraun-Dachsteingondelbahn (tempat parkir Dachstein Ropeway), Obertraun-Bundessportschule, Obertraun-Traunbrücke (Traun Bridge) dan Obertraun-Dachsteinhöhlen Bahnhof (train station). Saya memilih naik dari halte terakhir (train station) karena letaknya dekat hotel. Bis ini akan berhenti di Hallstatt Lahn yang berada di ujung Selatan kota. Jadwal bis dari Obertraun – Hallstatt dan sebaliknya bisa didownload disini .

Berbagai sudut kota Obertraun

Berbagai sudut kota Obertraun

Hallstatt

Seperti juga Obertraun, Hallstatt sebenarnya adalah sebuah desa kecil di daerah Salzkammergut Region. Konon Hallstatt terlebih dahulu ada sebelum Romawi karena menurut catatan sejarah desa ini sudah ada sejak 7000 tahun yang lalu. Jadi tidaklah mengherankan kalau Unesco akhirnya memasukkan Hallstaat dalam World Heritage Site untuk Cultural Heritage. Dahulu desa ini terkenal karena memiliki sumber garam alami. Saking berharganya garam pada masa itu, sampai-sampai terdapat istilah “White Gold” yang menjadi sumber kejayaan Hallstatt dan Austria pada masa itu. Untuk menghasilkan garam, setelah ditambang bahan mentahnya harus dipanaskan. Jaman dulu karena di Hallstatt kayu sangat jarang maka untuk memanaskan air garam ini mereka mengirim bahan mentah ke pabrik garam di Ebensee yang berjarak 40 km dengan menggunakan pipa kayu. Akhirnya terciptalah pipa kayu terpanjang dan tertua di dunia yang kabarnya sampai sekarangpun masih bisa digunakan.

Jalan menuju tambang garam (atas) dan pintu masuknya (bawah)

Jalan menuju tambang garam (atas) dan pintu masuknya (bawah)

Tapi lain dulu lain sekarang. Saat ini disamping sebagai penghasil garam Hallstatt juga terkenal dengan pariwisatanya. Siapa sih yang tidak ingin menyaksikan desa kuno khas pegunungan Alpine?. Saking ngetopnya desa ini, pemerintah Cina bahkan berencana membuat replikanya di Huizhou, Guangdong. Tapi setelah berjalan-jalan disini, saya akui desa ini memang indah. Tiap sudutnya terlihat unik dan kuno, cukup duduk-duduk di tepi danaunya saja pikiran sudah segar. Tidak salah bila ada yang menjulukinya “The Pearl of Austria”. Tapi bukan saya dong kalau jauh-jauh ke Hallstatt hanya untuk duduk-duduk saja. Peta berikut menunjukkan rute walking Tour saya di Hallstatt.

Sebenarnya walking tour disini mudah saja karena hanya ada satu jalan yang membelah kota. Selain mudah, jalan-jalan disini juga nyaman karena dari bulan Mei sampai Oktober mulai jam 10 pagi sampai jam 5 sore kendaraan bermotor tidak diijinkan melintas dimana Hallstatt menjadi kota Car Free Day. Beberapa tempat yang saya kunjungi di Hallstatt antara lain :

1. Hallstatt Lahn

Satu-satunya tempat pemberhentian bis di Hallstatt ini adalah tempat yang tepat untuk memulai rute walking tour. Tapi sebelum mulai jalan, ada baiknya kita duduk-duduk disini sejenak menikmati panorama Hallstatt dengan latar belakang danau dan pegunungan Alpin yang indah. Bila beruntung, kita juga bisa menjumpai salah satu ikon Hallstatt yaitu swan’s of Hallstatt yang diimpor ke daerah ini tahun 1860 ketika raja dan ratu Austria mulai sering berlibur kesini. Maklum saja karena Ratu Sisi, ratu Austria saat itu, seperti juga sepupunya Ludwig of Bavaria sangat terobsesi dengan Angsa. Ludwig bahkan menamakan kastilnya yang paling terkenal  Neuschwanstein (New Stone Swan Castle).

Halte bisnya saja punya pemandangan seindah ini

Halte bisnya saja punya pemandangan seindah ini

Setelah puas foto-foto dan duduk-duduk disini, kami berjalan kaki menuju Tourismusbüro Hallstatt atau Pusat Informasi Turis di Hallstaat. Disini kami sekalian numpang ke kamar mandi untuk berwudhu dan setelah mendapat ijin dari petugasnya sekalian numpang sholat di pojokan kantornya. Sebelum mulai jalan, kami mampir sejenak di sebuah supermarket untuk beli roti dan susu sebagai pengganti makan siang. Jalan dari Pusat Informasi Turis menuju Salzwelten gampang diikuti karena petunjuk arahnya jelas dan dari jauh kita pasti akan tahu karena sudah terlihat rel Panorama Funicular yang menjulang tinggi keatas.

2. Salzwelten (Panorama Funicular & Rudolf’s Tower)

Sebenarnya yang saya tuju disini bukan Salzwelten-nya tapi Panorama Funicular (Salzbergbahn) dan Rudolf’s Towernya (Rudolfsurm). Hallstatt Salt Mine (Salzwelten) ini tercatat sebagai tambang garam tertua di dunia karena sudah mulai ditambang sejak 7000 tahun yang lalu. Saat ini tambang garam tersebut menjadi tempat wisata dimana para pengunjung bisa naik perahu melewati danau garam, meluncur turun lewat perosotan kayu dan berbagai aktivitas menarik lainnya. Yang menjadi highlight disini adalah The “Man in Salt”  yang ditemukan pada abad ke 17 berupa tubuh seorang penambang pria yang masih utuh lengkap dengan pakaian dan peralatan menambangnya. Yang menarik mayatnya tidak membusuk dan terawetkan secara alami akibat garam. Kalau lihat foto-foto di website resminya sebenarnya kepingin juga mampir kesini. Sayang tiket masuknya mahal. Jadi saya harus puas hanya naik Furnicular dan mengagumi keindahan pemandangan dari towernya saja.

Berbagai aktivitas di Saltzwelten (Photo by saltzwelten.at)

Berbagai aktivitas di Saltzwelten (Photo by saltzwelten.at)

Sebelum sampai di Salzwelten, kita harus naik Panorama Funicular dulu. Kendaraan ini berupa kereta satu kabin dengan kaca disekelilingnya. Saat naik kereta ini kita bisa melihat keseluruhan kota Halstatt, danau dan pegunungan disekelilingnya. Lama naiknya sekitar 3 menit dan naik sampai ketinggian kurang lebih 400 meter. Semakin naik, semakin indah pemandangannya. Sayangnya Funicular ini hanya buka dari bulan Mei – Oktober dengan jadwal bisa dicek disini. Tiket naiknya 13€ perorang. Kalau punya banyak waktu dan ingin menghemat biaya naik Funicular bisa juga trekking menaiki bukit ini. Waktu tempuhnya kurang lebih 2 jam pulang pergi.

Jalan menuju Saltzwelten (kiri atas), Jalur Panorama Funicular (kanan atas), Di dalam Funicular (kiri bawah), Pemandangan dalam dari Funicular (kanan bawah)

Jalan menuju Saltzwelten (kiri atas), Jalur Panorama Funicular (kanan atas), Di dalam Funicular (kiri bawah), Pemandangan dalam dari Funicular (kanan bawah)

Keluar dari Panorama Funicular, kita berjalan menyeberangi Lookout Bridge yang menjembatani jurang kecil dibawahnya. Jembatan ini mengarah ke ke Rudolf’s Platform semacam tempat pandang yang dibangun menggantung 400 meter diatas kota Hallstatt. Nah disinilah pemandangannya benar-benar menakjubkan. Gunung, danau dan desa kecil berpadu membentuk suatu komposisi yang indah. Sayang saya bukan pelukis. Dibelakang platform ini menjulang Rudol’s Tower yang dibangun pada abad ke 12 sebagai benteng pertahanan bagi tambang garamnya. Pada abad ke 13 menara ini menjadi tempat tinggal sekaligus kantor bagi Manajer Tambang sampai kurang lebih 640 tahun sesudahnya. Sekarang menara ini digunakan sebagai restoran. Nama restorannya Bergrestaurant Rudolfsturm, yang punya uang lebih bisa makan disini karena pemandangannya benar-benar indah.

Rudolf's Tower Platform

Rudolf’s Tower Platform dari samping

Rudolf's Tower Platform dari belakang

Rudolf’s Tower Platform dari belakang

Pemandangan dari atas platform

Pemandangan dari atas platform

Dari Rudolf’s Tower, saya dan suami menjelajah sampai pintu depan tambang Saltzwelten. Di sepanjang jalannya tiap beberapa meter terdapat semacam pameran dan informasi tentang sejarah tambang garam di Hallstatt. Ibu yang sudah kelelahan kami minta menunggu di Rudolf’s Tower. Turun dari Rudolf’s Tower, kami melanjutkan perjalanan menuju Marktplatz. Ibu menyuruh kami melanjutkan penjelajahan sementara beliau memutuskan menunggu saja di halte bis Hallstatt Lahn. Rupanya beliau benar-benar capek saya seret kesana kesini pindah-pindah kereta dan bis kota  .

3. Marktplatz

Dalam perjalanan menuju Marktplatz, mata kami benar-benar dimanjakan oleh pemandangan rumah-rumah kayu di sepanjang tepi jalan. Rumah-rumah tersebut dibangun melingkar-melingkar keatas bukit dan sebisa mungkin berdekatan dekat dengan danau. Alasan utamanya selain kekurangan tanah, mereka juga membutuhkan akses cepat ke danau. Yang kita lihat sebagai tingkat dua sekarang ini sebenarnya dulunya adalah tingkat pertama, sedangkan tingkat pertama dulunya adalah garasi kapal. Yah, kapal memang menjadi alat transportasi utama karena sampai abad ke 18 satu-satunya cara untuk sampai ke Hallstatt adalah melalui danaunya.

Garasi kapal di Hallstatt

Garasi kapal di Hallstatt

Cara yang paling baik untuk mengenali rumah mana yang benar-benar tua adalah dengan membandingkan komposisi bangunannya. Bila bangunannya banyak terbuat dari batu berarti rumah tersebut telah direnovasi atau dibangun kembali setelah terjadi kebakaran hebat pada tahun 1750. Rumah yang benar-benar tua bangunan keseluruhannya terbuat dari kayu tanpa ada batu sedikitpun. Nah, Markplatz yang kita datangi ini merupakan pusat kota Hallstatt yang dibangun pada saat Hallstaat sedang mencapai puncak kejayaannya. Keseluruhan tugunya dibangun dengan batu karena setelah kebakaran besar hampir semua bangunan dibangun kembali dengan menggunakan batu daripada kayu.

Marktplatz dan beberapa sudut kota Hallstatt

Marktplatz dan beberapa sudut kota Hallstatt

Setelah duduk-duduk sejenak di Marktplatz, kami melanjutkan perjalanan menuju gereja Katolik (Pfarrkirche) yang sangat terkenal dengan kuburannya.

4. Catholic Parish Church (Pfarrkirche)

Saat mendaki naik menuju gereja ini saya berhenti sejenak untuk mengagumi konstruksinya. Tentunya sulit sekali membangun sesuatu di bukit batu yang ketinggiannya hampir vertikal. Tapi gereja ini menjadi simbol kebanggaan warga Hallstatt sehingga para pekerja tambang garam yang turut membangun berusaha keras menyelesaikannya. Gereja ini adalah sebuah gereja tua yang berusia kurang lebih 500 tahun dan dulunya digunakan bersama-sama bagi warga Katholik dan Protestan. Yang menjadi daya tarik utamanya adalah kuburan yang terletak persis di halaman gereja. Disitu terdapat dua tingkat halaman yang berisi kurang lebih 100 kuburan. Tiap kuburan memiliki taman kecil sendiri dengan nisan terbuat dari besi atau kayu. Menarik juga mengamati kuburan-kuburan itu karena tamannya bagus-bagus dan tidak ada kesan seram sama sekali. Taman pekuburan ini sangat padat hingga seolah-olah saling bertindihan. Walaupun demikian kepadatan tersebut tidak mengurangi keindahannya. Saking padatnya, ada beberapa peraturan yang harus diikuti bila dikubur disini antara lain tidak boleh ada kuburan keluarga dan hanya bisa ditempati selama 10 tahun sebelum ditempati oleh mayat lain atau dipindahkan ke Bone House. Sampai saat ini kurang lebih 1200 tubuh telah dipindahkan dari kuburan ini ke sebuah bangunan yang disebut Bone House yang akan saya kunjungi kemudian.

Kuburan di halaman gereja (atas) dan pemandangan dari halamannya (bawah)

Kuburan di halaman gereja (atas) dan pemandangan dari halamannya (bawah)

Selain kuburannya, yang menjadi daya tarik lagi adalah keindahan pemandangan kota Hallstatt dari sini. Pemandangan dari halamannya cukup indah, mirip seperti pemandangan di Rudolf’s Tower tapi dengan sudut dan ketinggian yang berbeda. Cocok untuk duduk sore-sore, menikmati kesegaran udara dan mengistirahatkan kaki yang pegal dan nafas yang ngos-ngosan setelah mendaki. Untung saja ibu tidak ikut kesini karena jalur naiknya lumayan juga.

5. Bone House in Michael’s Chapel (Beinhaus en Michaelschapel)

Berdekatan dengan Catholic Parish Church adalah Bone House yang berada di lantai dasar dari 2 lantai Michaelskappelle atau kapel St. Michael. Sebenarnya Bone House, karner atau ossuaries merupakan suatu tradisi lama di Eropa tengah. Hal ini juga banyak dijumpai di Austria karena disini kuburan hanya boleh disewa atau ditempati selama periode tertentu biasanya 10-30 tahun. Setelah masa sewanya habis akan digunakan oleh mayat lain bila tidak diperpanjang. Akhirnya karena kekurangan tanah kuburan maka sejak abad ke 12 muncullah Bone House untuk menyimpan tulang belulang mayat yang telah habis masa sewanya. Saat itu mengkremasi mayat juga dilarang oleh gereja sehingga pembangunan Bone House dianggap satu-satunya jalan untuk memecahkan masalah penguburan.

Bagian Dalam Bone House Hallstatt

Bagian Dalam Bone House Hallstatt

Sebelum dipindahkan ke Bone House, tulang belulang dibersihkan dan dijemur selama beberapa minggu sampai licin seperti gading. Setelah bersih, tulang-tulang tersebut kemudian dimasukkan ke Bone House dan diurutkan berdasarkan kekerabatan. Barulah pada abad ke 17 muncul kebiasaan untuk melukisi tengkorak-tengkorak tersebut dengan nama, tahun kematian dan berbagai hiasan seperti bunga mawar yang berarti cinta, daun pohon Oak (simbol kejayaan) dan daun sulur Ivy (simbol kehidupan). Sekarang dengan diijinkannya pengkremasian mayat, penguburan di Hallstaat dan pemindahan tulang ke Bone House menjadi hal yang jarang dilakukan kecuali atas permintaan warga yang ditulis dalam surat wasiat. Pemindahan terakhir terjadi tahun 1995 ketika mayat seorang wanita yang meninggal tahun 1983 dipindahkan ke dalamnya. Yang menarik gigi emasnya masih utuh dan tidak lepas. Bila ingin berkunjung ke Bone House ini perhatikan bulan bukanya yaitu Mei sampai Oktober jam 10 pagi sampai jam 6 sore dengan tiket masuk 1,50 Euro.

6. Gosaumühlstraße

Berjarak sekitar 250 meter dari Bone House sampailah kita di jalan yang menjadi titik pandang paling difavoritkan di Hallstaat. Hampir semua pemandangan indah tentang Hallstat diambil dari sini. Semua kartupos, wallpaper di komputer dan foto-foto di kalender memajang pemandangan dari titik ini. Ironisnya di titik inilah baterai kamera yang sedari tadi kembut-kembut langsung mati, baterei di tablet yang dibikin memandu walking tour juga mati sedangkan hand phone ketinggalan di tas yang dibawa ibu. Maka di titik paling terkenal inilah saya malah tidak punya foto. Ya sudahlah, mungkin Alah menakdirkan saya untuk kembali kesini  .

Hallstatt dari titik Gosaumühlstraße (Photo by : wikipedia)

Hallstatt dari titik Gosaumühlstraße (Photo by : wikipedia)

Beginilah saya memandang Hallstaat sore hari itu, persis seperti gambar di wallpaper komputer yang kerap kali wira-wiri menemani saya bekerja. Tidak pernah terpikir sedikitpun kalau saya akan bakalan sampai disini. Disinilah saya tidak henti-hentinya bersyukur karena Allah memberikan saya kesehatan, kesempatan dan rejeki untuk datang kesini. Sekarang kalau melihat fotonya sedang melintas lewat saya selalu terkenang hari ini, hari ini dimana saya menghabiskan sehari penuh di Hallstatt.

Gambar di kartupos yang saya bei di Hallstatt

Suasana jalan-jalan di Hallstatt (Gambar di kartupos yang saya beli di Hallstatt)

Dari Gosaumühlstraße, kami kembali ke halte bis Hallstatt Lahn untuk menjemput ibu. Dari situ kami naik bis No. 543 untuk kembali ke stasiun kereta Obertraun. Jam hampir menunjukkan pukul setengah 8 malam ketika kami sampai di hotel. Setelah check inn, kami mandi dan makan malam di kamar sebelum beristirahat mengumpulkan tenaga karena besok pagi-pagi sekali kami sudah harus check out dan melanjutkan perjalanan ke Salzburg.

Biaya Hari Ke 6 (Per Orang)

untitled
Kronologi Waktu

3

sumber : https://jejakvicky.com/2016/01/21/hari-ke-6-munich-obertraun-hallstatt/

© Copyright 2018 Amazing Malang - Amazing Your Adventure

Search