Info Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Video Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Berbagi Foto Wisata
Amazing Malang

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/wwwkemas/public_html/amazingmalang.com/administrator/components/com_sppagebuilder/helpers/sppagebuilder.php on line 156

Hari Ke 4 : Bangkok

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Hari Ke 4 : Bangkok (Chatuchak Weekend Market, Jim

Thompson House, MBK & Bangkok Dinner Cruise)

 

Today it’s a shopping day yeay, sebenarnya saya paling benci shopping, rasanya bukan hobi saya memegalkan kaki hanya untuk belanja. Kaki pegal, kantong kempes adalah efek negatif yang paling tidak saya suka. Kalau lagi ke mall atau pasar saya hanya suka melihat-lihat saja sekedar menambah pengetahuan tentang trend terkini dan harga barang. Tapi terlepas dari ketidak sukaan saya pada acara belanja, mau tidak mau saya tetap harus menyelipkan kegiatan melihat-lihat pasar atau mall karena satu hal yaitu oleh-oleh :).

Chatuchack Weekend Market (Photo By : Bangkok.com)

Chatuchack Weekend Market (Photo By : Bangkok.com)

Nah mumpung hari Sabtu saya masih ada di Bangkok, maka

hari ini saya berencana mengunjungi Chatuchack Weekend Market, pasar akhir minggu terbesar di Thailand. Dari pasar ini, kami akan mengunjungi museum Jim Thompson dan mampir di salah satu mall paling terkenal di Bangkok, yaitu MBK. Shopping day ini akan ditutup dengan Bangkok Dinner Cruise yaitu makan malam diatas kapal yang berlayar membelah sungai Chao Phraya. Tiket Dinner Cruise-nya sudah dibeli 2 hari sebelumnya dari salah satu travel agen di Khaosan Road.

Chatuchack Weekend Market

Sebagai pasar akhir minggu terbesar di Thailand, Chatuchack Weekend Market dikunjungi hampir seperempat juta orang dalam sehari. Terbentang dalam area seluas 10 hektar, pasar yang mampu menampung 15.000 kios ini dibagi ke dalam 27 bagian sesuai dengan jenis produknya. Pengelompokkan ini bertujuan untuk memudahkan pencarian barang. Pasar yang dibuka tiap hari Sabtu dan Minggu dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore ini merupakan destinasi wajib kunjung bila sedang weekend di Bangkok.

1. Cara Menuju Chatuchak Weekend Market

Diperlukan waktu 1 jam perjalanan dari Nasa Vegas Hotel menuju Chatuchak dengan rute transportasi sebagai berikut :

Rute Chatuchak

Peta jalur kereta dari hotel menuju Chatuchak dapat dilihat pada gambar berikut (seperti biasa stasiun pemberhentian ditandai dengan kotak merah dan diberi nomor):

Rute Chatuchak

Kalau melihat peta rute kereta diatas, stasiun Makassan tampaknya bersambung dengan stasiun Phetchaburi. Tapi kenyataannya tidak demikian karena perbedaan jenis kereta. ARL City Line yang lewat di stasiun Makassan merupakan kereta dengan rel diatas sedangkan stasiun Phetchaburi merupakan stasiun MRT dengan rel bawah tanah. Jadi memang kita harus berjalan kaki keluar stasiun Makassan untuk sampai di Phetchaburi. Saat keluar dari stasiun Makassan ada semacam mobil pengangkut gratis menuju jalan besar. Dari tempat pemberhentian terakhir mobil tersebut, jalan lurus saja ke arah kanan sejauh kurang lebih 50 meter. Stasiun Phetchaburi terletak di sebelah kanan jalan. Peta jalan kaki dari stasiun Makassan ke stasiun Phetchaburi dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Peta Jalan Kaki Dari Stasiun Makassan ke Stasiun Phetchaburi (Sumber : Google Map dengan modifikasi sendiri)

Peta Jalan Kaki Dari Stasiun Makassan ke Stasiun Phetchaburi (Sumber : Google Map dengan modifikasi sendiri)

Update terbaru : Per Agustus 2013, terdapat jembatan penghubung antara Stasiun Makassan dan stasiun Petchaburi yang terletak di lantai 2 (terima kasih mbak Rika Chrisantani atas informasinya).

2. Makanan Halal di Chatuchack Weekend Market

Keluar dari stasiun Kamphaengphet exit 2 sampailah kita di area barat Chatuchack Weekend Market. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari warung makanan halal karena si mak langganan depan hotel sedang libur jualan. Ubek sana sini tidak ketemu juga maklum jam memang masih menunjukkan pukul 08.15 sehingga masih banyak kios yang tutup. Akhirnya kami menemukan satu warung dengan menu non babi yang buka, memang di depannya tidak ada tulisan halal tapi kami masuk juga dengan harapan toh kita hanya akan makan telur goreng dan ikan. Setelah selesai memesan makanan, duduklah kami sambil mengamati keadaan sekitar. Pembeli warung ini rata-rata para penjual di pasar itu yang tidak sempat sarapan dirumah. Lagi enak-enak ngobrol sambil menunggu pesanan makanan, tiba-tiba pemilik warung datang. Melihat kami (kebetulan salah satu teman seperjalanan berjilbab), dia langsung menghampiri dan menyarankan untuk tidak makan disini karena dia tidak menyediakan makanan halal. Waktu kami bilang kalau kami hanya pesan telur goreng dan ikan saja, dia tetap ngotot menyuruh kami pergi. Dia bilang karena dia menggoreng makanannya menggunakan lemak babi jadi apapun makanan disini menjadi tidak halal bagi kami. Wah salut juga sama kejujurannya, jarang banget ketemu orang seperti ini. Baiknya lagi dia menunjukkan letak warung makanan halal yang buka pagi-pagi begini. Alhamdulillah hari ini kami terselamatkan berkat jilbab dan kejujuran hati seorang pemilik warung.

Kios Makanan Halal di Chatuchak Weekend Market. Ramazan Doner Kebab (Kiri), Rahmatullah (Kanan Atas), Saman Islam (Kanan Bawah)

Kios Makanan Halal di Chatuchak Weekend Market. Ramazan Doner Kebab (Kiri), Rahmatullah (Kanan Atas), Saman Islam (Kanan Bawah)

Warung makanan halal yang disarankan oleh pemilik warung terletak di section 6, sayang saya tidak bisa menyebutkan namanya karena semua ditulis dalam bahasa Thai. Warung ini menjual ayam dan bebek panggang dengan harga makanan berkisar antara 50 B sampai 70 B. Sebenarnya saat banyak kios-kios yang sudah buka, warung makanan halal tidak susah dijumpai disini. Selain warung yang sudah saya coba diatas ada beberapa warung halal yang saya jumpai selagi berbelanja antara lain warung Saman (section 16 soi 24) yang menjual Tom Yam Kung (100 B) dan Pad Thai (50 B), warung Rahmatullah dan kios kebab Ramazan Donner Kebab. Selesai sarapan, mulailah kami menjelajahi pasar ini.

3. Barang-Barang yang Dijual di Chatuchak Weekend Market

Sebenarnya ada 8 jenis barang utama yang dijual disini antara lain : tanaman, barang antik, binatang peliharaan, makanan & minuman, bahan makanan segar & kering, keramik & koleksi rumah tangga, baju dan terakhir buku. Nah ke 8 jenis barang tersebut dijual di berbagai kios yang terbagi menjadi 27 area atau section. Kiosnya-kiosnya kebanyakan tidak permanen dan gang antar kios juga kecil, hanya cukup untuk dua orang jalan berdampingan. Dengan ribuan kios seperti itu Chatuchak memang bagaikan labirin yang bisa bikin orang bingung dan tersesat. Jadi sebelum berbelanja disini saya sarankan untuk mendownload peta pasarnya diwebsite resmi ini. Peta ini sangat berguna untuk mengetahui jalan keluar dan menentukan area-area mana yang ingin kita datangi.

Peta Chatuchack Weekend Market

Peta Chatuchack Weekend Market

Kalau ingin belanja buku misalnya, langsung datang saja ke section 1 yang ditandai dengan area berwarna kuning. Section ini memang surganya buku, mulai dari buku-buku first edition sampai majalah yang bisa dikoleksi dijual lengkap dengan harga yang murah. Kalau tidak ingat bagasi, rasanya pengen diborong habis-habisan :). Bagi penggemar fashion bisa datang ke section 5 – 6 dan 10 – 24, karena paling populer dan harganya murah-murah maka bagian ini selalu penuh sesak. Bagi penggemar barang antik, bisa berbelanja di section 26 tapi berhati-hatilah bila membeli barang disini karena para pengrajin Thai juga ahli dalam membuat barang palsu. Pastikan keaslian dokumen dan barangnya karena barang antik asli memerlukan dokumen untuk keluar dari pemeriksaan bea dan cukai.

Kios Buku (Atas), Barang Antik (Kiri Bawah) dan Scarf (Kanan Bawah)

Kios Buku (Atas), Barang Antik (Kiri Bawah) dan Scarf (Kanan Bawah)

Secara keseluruhan, barang-barangnya sangat bervariasi baik jenis maupun mutunya. Bila berbelanja souvenir, tawar saja sampai seperempat atau setengah harga yang ditawarkan. Untuk tas Thailand ukuran besar bisa didapat sekitar 80 B, kaos dewasa harganya bervariasi mulai dari 100 B dan souvenir kecil-kecil seperti gantungan kunci atau tempelan kulkas bisa ditawar mulai harga 100 B untuk 5 atau 3 tergantung kualitasnya.

Kios Souvenir di Chatuchak

Kios Souvenir di Chatuchak

Kalau kaki sudah capek berbelanja, dibagian makanannya (section 1, 17 – 19 dan 27) banyak warung-warung yang menyediakan berbagai macam food street dan penyegar seperti jus dan buah. Kalau ingin makan di tempat yang lebih nyaman seperti restoran ber AC langsung saja menuju bagian  Dream Section, semacam area untuk barang-barang yang lebih berkelas dengan target konsumen menengah keatas. Kalau tersesat dan terpisah dari rombongan jangan panik, karena ditengah pasar ada menara jam tinggi yang bisa dijadikan patokan untuk bertemu. Setelah hampir 4 jam menjelajahi Chatuchack kami kembali ke stasiun Kamphaengphet untuk naik kereta menuju target berikutnya yaitu Jim Thompson House.

Jim Thompson House

Jim Thompson adalah seorang tentara Amerika yang ditugaskan di Bangkok selama perang Dunia II. Terpesona dengan keunikan Thailand akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di Bangkok setelah masa tugasnya berakhir. Selain memiliki keahlian sebagai arsitek, dia juga berbakat dibidang rancang busana dan pewarnaan textile yang membuatnya begitu tertarik untuk menghidupkan kembali seni tenunan sutra Thai. Begitu besar dedikasi dan usahanya mengenalkan sutra Thailand pada dunia hingga raja Thailand menganugerahinya the Order of the White Elephant, suatu penghargaan tertinggi bagi orang asing yang telah mengabdikan hidupnya bagi Thailand.

Jim Thompson House

Jim Thompson House

Tapi akhir hidup pahlawan sutra Thailand ini berakhir penuh misteri ketika dia dinyatakan hilang saat jalan-jalan sore di Cameron Highlands, Malaysia. Karena jasadnya tidak pernah ditemukan, hingga kini misteri ini tetap tidak dapat terpecahkan. Untuk menuju rumah sekaligus museum ini caranya cukup mudah.

Rute Jim Thompson

Peta rute keretanya ada pada gambar dibawah ini. Sebenarnya ada cara yang lebih mudah yaitu jalan kaki sepanjang pasar Chatuchack menuju stasiun Mo Chit kemudian naik Skytrain ke stasiun Siam. Tapi untuk menghemat waktu dan tenaga, saya memilih kembali saja ke stasiun Kamphaengphet. Pada saat turun di stasiun Chatuchack Park menuju ke stasiun Mo Chit perlu diingat bahwa keduanya adalah dua stasiun yang berbeda. Stasiun Chatuchak Park adalah stasiun MRT dengan jalur bawah tanah sedangkan stasiun Mo Chit adalah stasiun Skytrain dengan rel diatas. Jadi pada saat keluar dari stasiun Chatuchack Park cari saja jalur kereta diatas dan ikuti kemana arah keretanya. Kalau ragu tanyakan saja pada petugas arah stasiun Mo Chit.

Rute kereta Jim Thompson

Keluar di stasiun National Stadium, ambil saja exit 2 dan jalan kaki kurang lebih 450 meter menuju Jim Thompson House mengikuti arah peta dibawah ini. Jangan kuatir tersesat karena petunjuk jalannya jelas sekali. Sekali lagi bila ragu, tanya saja pada warga sekitar mereka pasti tahu dan menunjukkan arahnya. Saking ngetopnya sampai-sampai surat yang hanya bertuliskan alamat “Jim Thompson, Bangkok” saja bisa sampai dengan tepat ke rumahnya. Bila tidak ingin jalan kaki, di mulut jalan Soi Kasemsan 2 ada mobil golf gratis yang mengangkut pengunjung dari jalan besar menuju Jim Thompson House. Mobil golf ini jumlahnya terbatas, jadi saat sampai di mulut jalan mobilnya tidak ada, tunggu saja sebentar.

Peta Jalan Kaki Jim Thompson

Tiket masuk ke museum ini adalah 100 B dengan tur wajib selama 45 menit menyusuri isi rumah. Pada saat membeli tiket akan langsung ditanya mau tur berbahasa apa, kemudian jam turnya akan ditulis di tiket dan kita diminta menunggu. Selama menunggu kita diperkenankan melihat-lihat sekeliling rumah yang asri dan indah ini. Sebelum masuk kedalam rumah, semua barang harus dimasukkan ke dalam loker dan sepatu harus dilepas. Satu lagi tidak diperbolehkan membawa kamera, memotret hanya diperbolehkan di lingkungan sekeliling rumah setelah tur berakhir.

Pintu Gerbang Jim Thompson House Dan Keadaan Luar Rumah

Pintu Gerbang Jim Thompson House dan Bagian Sekeliling Rumah

Museum Jim Thompson ini terdiri dari 6 rumah kayu jati bergaya tradisional Thailand yang dibeli dari beberapa pemilik yang tinggal di berbagai penjuru Thailand dari Bang Krua sampai Ayuthaya yang kemudian dikapalkan dan dirakit di Bangkok. Pengerjaan perangkaiannya selesai pada tahun 1959. Bagian tertua rumah ini yaitu Drawing Room berasal dari awal abad ke 19 (dibuat sekitar tahun 1800). Rumah nan cantik ini memang penuh dengan barang-barang antik yang dikumpulkan oleh Jim Thompson selama masa hidupnya. Menelusuri rumah ini, serasa diajak kembali ke masa lalu, masa-masa dimana segala sesuatunya masih sederhana. Tapi bukan hanya barang antik yang membuat rumah ini unik, tapi perpaduan budaya antara barat dan timur yang membuatnya menarik. Sebagai contoh : Jim membuat kamar mandi di dalam rumah yang bertentangan dengan kultur Thailand tapi juga membangun rumah arwah (spirit house) dihalaman layaknya orang Thailand.

Bagian Dalam Jim Thompson House (Photo By : amusea museum)

Bagian Dalam Jim Thompson House. Ruang Makan (Kanan Atas), Ruang Tamu (Kiri Bawah) dan Spirit House (Kanan Bawah) (Photo By : amusea museum)

Selesai mengikuti tur, saya iseng-iseng melihat kedalam toko Jim Thompson’s Silk yang berada di halaman rumah. Toko ini menjual berbagai macam barang dari sutra dengan kualitas premium sehingga harganya juga premium. Untuk kaos saja harganya sudah diatas 1000 B, sedangkan untuk barang-barang kecil seperti dompet atau dasi harganya diatas 500 B. Walaupun tidak membeli, senang juga melihat-lihat barang disini. Secara keseluruhan, kunjungan ke rumah ini sangat saya rekomendasikan bagi pecinta sejarah, barang antik dan arsitektur. Dari keseluruhan kunjungan saya ke Bangkok, Istana Vimanmek dan Jim Thompson House lah yang paling membuat saya terkesan. Lebih jauh tentang Jim Thompson House bisa dilihat disini.

Mah Boon Krong (MBK)

Dari Jim Thompson House, kami berjalan kaki menuju Mah Boon Krong (MBK), “The Most Visited Mall in Bangkok”. MBK menjadi tempat wajib kunjung bagi pecinta belanja karena mall 7 lantai ini bisa dikategorikan sebagai discounted mall yang menyediakan barang dengan harga murah. Dibandingkan dengan Chatuchak, harganya memang lebih murah di Chatuchack (apalagi kalau pinter nawar), tapi untuk harga standar mall, MBK memang lebih murah.

Mall Mah Boon Krong

Mall Mah Boon Krong

Untuk menuju tempat ini, kita memang hanya perlu berjalan kaki dari Jim Thompson House. Kalau bingung mencari jalannya masuk saja ke stasiun BTS Skytrain National Stadium dan ikuti arah penunjuk jalan menuju MBK. Jalan dari stasiun BTS ini akan tembus ke lantai 2 dan 3 nya.

Rute Jalan Kaki MBK

Terus terang mall ini menjadi tempat favorit saya karena menyediakan musholla di lantai 6 dan ada Food Court di lantai 5 yang punya stand makanan halal. Musholanya memang terletak diluar dekat dengan tempat parkir, tapi tempatnya cukup bersih. Kalau masih ingin membeli souvenir, di lantai 6 dekat musholla ada Paco Zone Souvenir Shop, semacam area khusus berjualan souvenir. Terdiri dari banyak stand kecil-kecil di tempat ini kita bisa membeli gantungan kunci, tempelan kulkas, kaos sampai tas.

Muslim Prayer Room di MBK

Muslim Prayer Room di MBK

Selesai sholat, waktunya mengisi perut untuk makan siang yang terlambat (jam sudah menunjukkan pukul 15.30). Ada beberapa pilihan restoran makanan halal disini, antara lain : di Lantai 5, Food Court “The Fifth Food Avenue” ada Thai Muslim by Sultana, Indonesian by Jimbaran Bali, Muslim by Ali’s Arabic Cuisine dan di lantai ini juga ada Yana Restaurant sedangkan di Lantai 6, Food Centre MBK ada The Surau dan satu stand makanan halal yang namanya ditulis dalam bahasa Thai. Setelah hampir 2 jam menghabiskan waktu di MBK untuk sholat, makan siang dan cuci mata, tepat jam 17.30 kami mulai berburu taxi menuju lokasi Bangkok Dinner Cruise.

Restoran Halal di MBK

Restoran Halal di MBK

Naik taksi di Bangkok tetap merupakan suatu tantangan tersendiri buat saya. Tantangan pertama karena kebanyakan dari mereka tidak bisa bahasa Inggris sehingga alamat yang ditulis dalam bahasa Inggris sangat menyusahkan mereka. Jadi aturan pertama kalau mau naik taksi di Bangkok adalah mencatat alamat tujuan dalam bahasa Thailand. Itulah sebabnya banyak hotel-hotel di Bangkok yang mencantumkan alamat Thai di websitenya. Tantangan kedua adalah mereka tidak selalu tahu jalan, jadi sangatlah penting untuk mengetahui bahwa mereka tahu alamat yang dituju. Kalau sudah sepakat soal alamat barulah kita masuk kedalam taksi. Jangan lupa cantumkan juga nomor telepon tempat yang akan dituju. Jadi sewaktu-waktu supir taksinya kehilangan arah ada yang bisa dimintai bantuan memandunya ke alamat yang benar. Tantangan ketigaberhubungan dengan ketidaksukaan mereka menggunakan argo. Beberapa kali naik taksi di Bangkok baru satu kali ada sopir taksi yang dengan kesadaran sendiri menyalakan argonya. Selebihnya kalau nggak tawar-tawaran harga, kita harus ngotot dulu minta supaya argonya dinyalakan. Soalnya terbukti pakai argo memang jauh lebih murah.

Bangkok Dinner Cruise

Selain naik taksi, memilih tur penyelenggara Bangkok Dinner Cruise juga menjadi tantangan tersendiri. Begitu banyak penyedia layanan Dinner Cruise ini dari yang murah sampai mahal, dari yang menunya sederhana sampai kompleks. Belum lagi reviewnya yang bermacam-macam sampai bikin puyeng kepala :). Akhirnya dari berbagai macam website yang menawarkan Bangkok Dinner Cruise, saya menetapkan beberapa kriteria. Yang pertama, mereka harus menyediakan makanan halal, yang kedua tidak terlalu ramai dengan acara lain-lain seperti karaoke dan yang ketiga harganya murah (nah ini yang susah). Soal harga, saya berpatokan pada website hotels2thailand karena dibanding website yang lain harganya lebih murah. Jadi saat tawar menawar dengan pihak agen saya sudah tahu standar harganya. Dari beberapa penyedia Dinner Cruise, petugas di agen Cheap & Smile Thailand With Happy Max Tour Khaosan Road menyarankan untuk mengambil Riverside Bangkok Dinner Cruise. Untuk level Dinner Cruise yang murah, Riverside ini direkomendasikan karena makanannya lebih enak dibanding yang lain. Nah, apakah pilihan ini benar ? let’s have take a look yah…

Hotel Riverside Bangkok

Hotel Riverside Bangkok

Berbekal alamat dan nomor telepon yang diberikan oleh petugas travel agen, sampailah kami di Riverside Bangkok Hotel dengan menggunakan taksi. Saat itu jam menunjukkan pukul 18.00, 1 jam sebelum Dinner Cruisenya dimulai. Saat datang jangan masuk ke hotelnya, karena meja check inn berada disamping luar hotel. Disitu kita menyerahkan kuitansi pembayaran dari travel agen yang kemudian diganti dengan sticker untuk ditempel di baju. Selanjutnya ada petugas pemandu yang mengantar kita sampai ke meja.

Tempat Masuk Bangkok River Cruise. Di Ujung Kanan Bawah adalah Meja Daftar Ulangnya (Photo By : Foodosophy)

Tempat Masuk Riverside Bangkok Dinner Cruise. Di Ujung Kanan Bawah adalah Meja Tempat Check Inn (Photo By: Foodosophy)

Setelah diantar ke meja (barang belanjaan dijadikan satu ransel dan ditaruh dibawah meja :)), sambil menunggu Dinner Cruisenya dimulai, kita naik ke atas untuk melihat-lihat dan berfoto. Di tingkat teratas ada semacam open deck dengan banyak kursi, jadi kita bisa melihat-lihat pemandangan kalau hari sedang tidak hujan. Saat kapal mau berangkat kita turun lagi ke bawah. Di bawah, meja prasmanan sudah penuh dengan berbagai macam makanan. Menunya banyak dan bervariasi dari Seafood, masakan Jepang, masakan khas Thailand, masakan Eropa, masakan Timur Tengah, Masakan Cina, semuanya tersedia. Sayangnya dari berbagai macam menu itu ada satu masakan olahan babi sehingga akhirnya saya pilih amannya saja dengan makan masakan yang tidak digoreng, tidak berkuah dan pilih yang rebusan atau bakaran saja (mereka membakar sesuai permintaan).

Bagian Dalam Kapal Riverside Bangkok Dinner Cruise

Bagian Dalam Kapal Riverside Bangkok Dinner Cruise

Makanannya begitu berlimpah dengan rasa standar, tapi ada beberapa yang enak sekali. Makanan penutupnya juga bermacam-macam dari es krim, kue-kue modern sampai kue tradisional. Saat pertama kali makan, orang pada berebutan mengambil makanan yang sebetulnya tidak perlu karena selalu ditambah terus sama pelayannya. Satu lagi, jangan kalap, banyak orang main ambil apa saja yang terlihat di mata. Begitu dikumpulkan di meja ternyata tidak habis. Saya sampai ngeri melihat di meja-meja begitu banyak makanan tapi tidak dihabiskan. Selesai makan, ada beberapa acara yang ditampilkan oleh pihak penyelenggara diantaranya tari-tarian tradisional dan nyanyian. Pokoknya persis seperti datang kawinan cuman diselenggarakan diatas kapal  Karena acaranya tidak begitu menarik, jadi setelah makan, kami memilih pergi ke open deck diatas sambil membawa makanan penutup dan menikmati pemandangan sungai Chao Phraya diwaktu malam.

Open Deck Di Tingkat Atas

Open Deck Di Tingkat Atas

Meskipun sudah beberapa kali menyusuri sungai ini dengan menggunakan ferry, rasanya tetap berbeda bila pakai River Cruise. Mungkin karena kapalnya berjalan lebih lambat dan atapnya yang terbuka memungkinkan kita untuk melihat-lihat pemandangan sekitar. Kapal ini menghabiskan waktu 2.5 jam untuk rute melingkar melewati landmark-landamark terkenal kota Bangkok seperti Grand Palace, Wat Arun dan Rama Bridge. Melihat bangunan-bangunan itu diwaktu malam sungguh berbeda, memang sama-sama indah tapi berbeda. Dengan lampu-lampu yang menyinarinya kedua bangunan tersebut lebih terasa keanggunannya. Suasana yang tenang, makanan penutup yang enak dan pemandangan yang indah, sungguh momen yang tepat untuk menutup hari.

Grand Palace dan Wat Arun di Waktu Malam

Grand Palace dan Wat Arun di Waktu Malam

Bangkok Dinner Cruise ini berakhir jam 21.30, karena sudah tidak ada kendaraan kami jalan sedikit ke jalan besar untuk menyetop taksi. Setelah menunjukkan alamat dan tawar menawar akhirnya kami kembali ke hotel dengan kaki lelah, perut kenyang dan hati yang bahagia. Alhamdulillah :).

Biaya Hari Ke-4

untitled

sumber: klik disini

© Copyright 2018 Amazing Malang - Amazing Your Adventure

Search