Info Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Video Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Berbagi Foto Wisata
Amazing Malang

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/wwwkemas/public_html/amazingmalang.com/administrator/components/com_sppagebuilder/helpers/sppagebuilder.php on line 156

Hari Ke 5 : Bangkok

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Hari Ke 5 : Bangkok (Ayutthaya & Asiatique)

 

Bosan di Bangkok, hari ini saya memutuskan untuk pergi ke luar kota melakukan wisata budaya dengan mengunjungi Ayutthaya. Berjarak sekitar 85 km sebelah utara Bangkok, tempat ini dapat dikunjungi dengan menggunakan kereta, bis, minivan atau boat. Mulanya sih pengen ikut paket tur dengan perahu, tapi setelah dibanding-bandingkan harganya tidak ada yang murah. Akhirnya diputuskan naik kereta saja sekalian menikmati pemandangan luar kota Bangkok. Jadi jam tujuh pagi tanpa sarapan, kami sudah cabut dari hotel untuk mengejar kereta pagi ke Ayutthaya.

Salah Satu Sudut Ayutthaya (Photo By : Red List)

Salah Satu Sudut Ayutthaya (Photo By : Red List) 

Sebagai ibukota kedua Siam setelah Sukhotai, sekitar tahun 1700 an Ayutthaya merupakan

salah satu kota terbesar di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta orang. Selama berabad-abad, lokasinya yang ideal antara Cina, India dan Kepulauan Melayu membuat Ayutthaya menjadi kota perdagangan Asia dan dunia. Banyak pedagang-pedagang dari Arab, Cina, India, Jepang, Portugal, Belanda dan Perancis datang berdagang kesini yang menjadikan Ayutthaya menjadi kota yang megah dengan istana-istana berlapis emas dan penduduknya yang makmur sejahtera. Hal ini ditandai dengan seringnya diadakan upacara-upacara besar di kota itu. Tapi semuanya berubah ketika Burma menginvasi Ayutthaya dan membakar kota yang megah itu sehingga rata oleh tanah. Sekarang bila datang ke kota ini kita hanya bisa melihat reruntuhan sisa-sisa kejayaannya yang pada tahun 1991 dengan UNESCO akhirnya dimasukkan dalam World Heritage Site. Rute transportasi dari Hotel Nasa Vegas menuju Ayutthaya adalah sebagai berikut :

untitled

Peta jalur kereta dari hotel menuju Ayutthaya dapat dilihat pada gambar berikut (stasiun pemberhentian ditandai dengan kotak merah dan diberi nomor):

Nasa Vegas To Hua Lamphong

Stasiun MRT Hua Lamphong

Di Stasiun MRT Hua Lamphong ambil exit 2 yang jalannya akan langsung tersambung dengan pintu masuk stasiun kereta api Hua Lamphong (ingat mereka adalah 2 tempat yang berbeda). Di sepanjang lorong keluarnya terdapat semacam museum yang menceritakan sejarah MRT Bangkok. Bagaimana pembangunan MRT tersebut dimulai dan bagaimana prosesnya sempat terhenti karena krisis ekonomi dan berbagai tantangan teknis yang berhubungan dengan pembangunannya.

Exit menuju Stasiun Hua Lampong dan Museum MRT Hua Lampong

Exit menuju Stasiun Hua Lampong dan Museum MRT Hua Lampong

Dari museum tersebut terlihat betapa bangganya rakyat Bangkok karena pada akhirnya mereka punya “The First Metro in Thailand” dengan jalur bawah tanah yang berbeda dengan BTS Skytrain yang telah dimiliki sebelumnya. Saat ini MRTnya memang masih terbatas pada satu jalur yaitu jalur biru, sedangkan jalur kedua yang rencananya akan berwarna ungu sedang dalam tahap pembangunan.

Hua Lamphong Railway Station

Dikenal juga sebagai Bangkok Railway Station, stasiun ini merupakan stasiun utama dari jaringan perkeretaapian Thailand (State Railway of Thailand). Jadi semua kereta jurusan northern, eastern, northeastern dan southern Thailand semuanya berangkat dan terpusat disini. Sepintas bangunan bergaya Italia ini begitu mirip dengan Frankfurt Train Station dengan bagian depan berbentuk kubah separuh dengan jam besar dan ruang tunggu penumpang yang luas dan terbuka.

Bagian Luar dan Dalam Stasiun Hua Lamphong

Bagian Luar dan Dalam Stasiun Hua Lamphong

Tiket kereta menuju Ayutthaya bisa langsung dibeli di jajaran loketnya tanpa harus reservasi dulu. Ada 4 jenis kereta menuju Ayutthaya yaitu : Special Express, Express, Rapid dan Ordinary, masing-masing dibedakan berdasarkan harga, fasilitas dan kecepatannya. Jadwal kereta dari Bangkok menuju Ayutthaya dapat dilihat disini. Lega karena sudah mendapat tiket, kami mulai berkeliling mencari sarapan. Di sebelah kanan ruang tunggu terdapat Food Court dengan salah satu kios yang menjual makanan halal. Kami terpaksa minta dibungkus karena takut ketinggalan kereta.

Warung Makanan Halaldi Stasiun Hua Lamphong

Warung Makanan Halal di Stasiun Hua Lamphong

Naik keretanya cukup mudah, perhatikan saja nomor kereta di tiket kemudian lihat di papan informasi nomor jalurnya. Kebetulan saat berangkat saya mendapat kereta jenis Ordinary dengan banyak pemberhentian sehingga perjalanan terasa lama dan panjang. Suasana dalam kereta tidak beda jauh dengan kereta kelas ekonomi di Indonesia, dengan tempat duduk berhadap-hadapan yang tidak bisa diputar. Untungnya saya duduk berkelompok dengan satu keluarga Thailand (bapak, ibu, satu anak balita) yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga perjalanan terasa menyenangkan melihat kelucuan-kelucuan kami yang berusaha berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Saya mengajarkan beberapa kata dalam Bahasa Inggris dan mereka mengajarkan saya beberapa kata dalam Bahasa Thailand.

Papan Informasi Jalur Kereta dan Suasana di Dalamnya

Papan Informasi Jalur Kereta dan Suasana di Dalamnya

Sampai di Bang Sue Junction, kereta berhenti cukup lama dan penumpang dengan jurusan Ayutthaya dipersilahkan memilih mau terus naik kereta ini (dengan catatan masih harus menunggu) atau pindah kereta Ekspress yang langsung berhenti di Ayutthaya. Akhirnya kami memilih ikut kereta Express dan diharuskan turun untuk antri beli tiket dan sekaligus ganti kereta. Untuk naik kereta Express ini terdapat tambahan biaya 10 B dan keretanya memang lebih cepat dan tidak berhenti-berhenti lagi. Kali ini saya mendapat pasangan duduk dua orang traveler dari Jepang dan segera terlibat percakapan seputar perjalanan mereka menjelajah Thailand dan rencana perjalanan saya ke Jepang. Tanpa terasa jam 12.15 kami tiba di Stasiun Ayutthaya (perjalanan kurang lebih memakan waktu 5 jam dihitung dari saat kami mulai meninggalkan hotel). Hal pertama yang saya lakukan adalah mengecek jadwal kereta menuju Bangkok supaya tahu alokasi waktu yang bisa kami habiskan disini. Kereta pulang ke Bangkok akan berangkat jam 17.00 jadi kami punya waktu 5 jam untuk menjelajahi kota ini.

423452248_79b246bc1c_z-horz

Stasiun Ayutthaya

Ayutthaya

Bila dilihat dari udara Ayutthaya tampak seperti pulau tersendiri yang dikelilingi oleh 3 sungai yaitu Chao Phraya River, Lopburi River dan Pa Sak River. Dulunya orang bahkan harus naik ferry untuk menyeberang sampai Ayutthaya. Sekarang setelah dibangun jembatan, kita bisa menuju kota ini tanpa menggunakan ferry. Keluar dari stasiun sudah langsung dikerubuti supir tuk-tuk yang berlomba-lomba menawarkan jasanya. Sewa tuk-tuk kurang lebih 200 B perjam, kalau dirasa cukup mahal bisa mengikuti jejak kami menyewa sepeda motor. Tepat didepan stasiun terdapat persewaan sepeda motor dan sepeda kayuh yang harganya cukup terjangkau yaitu 150 – 200 B untuk sepeda motor dan 40 B untuk sepeda kayuh. Harga tersebut untuk per 12 jam sewa karena tempat persewaan ini buka dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. Petugasnya hanya meminta fotokopi paspor sebagai jaminan dan kita bebas memilih mau naik sepeda yang mana. Pada saat berangkat bensin sepeda motor dalam keadaan penuh dan harus dikembalikan dalam keadaan penuh pula. Setelah mencapai kata sepakat, petugas akan menyerahkan kunci, rantai pengaman untuk mencegah kehilangan dan peta kota Ayutthaya lengkap dengan spot-spot yang menarik. Setelah urusan administrasi selesai, mulailah kami menjelajah kota ini.

Persewaan Sepeda Di Ayutthaya

Persewaan Sepeda Di Ayutthaya

Kendala pertama yang kami rasakan adalah menentukan arah. Terus terang peta yang diberikan timbul tenggelam antara jelas dan tidak sedangkan petunjuk arah juga minim. Tapi setelah tanya sana-sini bahkan ada yang berbaik hati mengantar sampai ke tempat tujuan akhirnya tuntas juga menjelajahi kota ini. Beberapa tempat yang sempat kami eksplorasi antara lain :

1. Wat Phra Mahathat

Kuil ini merupakan kuil terpenting selama masa keemasan Ayyuthaya. Meliputi satu kompleks kuil yang amat luas, ada beberapa hal yang bisa dilihat di tempat ini. Yang paling terkenal adalah patung kepala Budha yang terlilit akar pohon dan jajaran patung Budha tanpa kepala. Bila berfoto dengan patung kepala Budha, kita harus berjongkok karena tinggi kita tidak boleh melebihi kepala Budha yang dianggap suci tersebut. Tiket masuk kuil ini 50 B dan disitu disewakan juga audio guide sehingga bisa berkeliling sambil mendengarkan sejarah kuil ini.

wat-phra-mahathat-vert

Kepala Budha Dalam Akar Pohon (Atas) dan Jajaran Patung Budha Tanpa Kepala (Bawah)

2. Wat Phra Si Sanphet

Merupakan kuil terbesar di Ayyuthaya yang hanya digunakan untuk upacara keagamaan kerajaan. Dulunya kuil ini terkenal dengan jajaran Chedi-nya (stupa bergaya Thailand) dan patung emas Budha setinggi 16 m dengan berat 340 kg. Ketika Burma menjarah tempat ini mereka membakar patung Budha tersebut untuk melelehkan emasnya sekaligus membakar habis jajaran Chedinya yang kini hanya tersisa 3 buah. Ketiga Chedi tersebut menyimpan abu jenazah raja-raja Ayutthaya. Terletak dalam satu kompleks dengan kuil ini, terdapat reruntuhan Grand Palace, istana raja-raja Ayutthaya yang kini hanya tinggal puing-puingnya saja. Tiket masuk ketempat ini 50 B.

Ketiga Chedi di Wat Phra Si Sanphet (Photo By : ToThailand.com)

Ketiga Chedi di Wat Phra Si Sanphet (Photo By : ToThailand.com)

3. Viharn Phra Mongkol Bopit

Masih dalam satu kompleks Grand Palace dan Wat Phra Si Sanphet terdapat Viharn Phra Mongkol Bopit. Viharn (aula pertemuan) ini dibangun pada tahun 1950-an sebagai tempat penyimpanan patung Buddha berlapis perunggu setinggi lebih dari 12 m. Dulunya patung ini terletak di sebelah timur Grand Palace sebelum dipindahkan ke tempat yang sekarang. Di depannya terdapat lapangan terbuka bernama Sanam Luang yang dulunya digunakan sebagai tempat kremasi keluarga kerajaan. Pada saat saya kesana kuil ini sedang ramai sekali, banyak orang berdoa meminta banyak hal, memberikan saya kesempatan untuk ngadem setelah berpanas-panas diluar sambil mengamati cara mereka berdoa. Tiket masuknya gratis.

Bagian Depan Viharn Phra Mongkol Bopit dan Patung Budha Di Dalamnya

Bagian Depan Viharn Phra Mongkol Bopit dan Patung Budha Di Dalamnya

Karena perut sudah keroncongan, kami memutuskan untuk makan di tempat ini. Kebetulan di gerbang depannya banyak sekali orang berjualan. Kami makan di satu-satunya warung halal di tempat itu yang menjual ayam panggang dan sticky rice (beras ketan). Karena tidak ada pilihan lain selain sticky rice jadilah untuk pertama kalinya makan ayam sama ketan :). Karena warungnya lesehan (pakai tikar dan meja rendah serasa piknik) sekalian saja sholat disitu, kebetulan saat itu tidak ada pengunjung lain. Sehabis makan, kami melihat atraksi gajah di tempat itu. Kebetulan atraksinya gratis tapi kita boleh menyumbang sekedarnya. Lumayan menghibur juga karena gajahnya bisa menari dan melakukan banyak atraksi lain. Disini juga ditawarkan persewaan gajah untuk mengelilingi kompleks Grand Palace yang cukup luas. Puas istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya yaitu Khun Phaen’s Residence.

4. Khun Phaen’s Residence

Terletak persis diseberang jalan, tempat ini merupakan rumah tradisional Thailand yang dulunya merupakan tempat kediaman Gubernur Ayutthaya. Dibangun pada tahun 1894, dulunya tempat ini adalah bekas penjara dan eksekusi (kalau di Indonesia sudah jadi rumah hantu nih). Tidak banyak yang bisa dilihat di tempat ini. Seperti juga kebanyakan rumah tradisional Thailand, eksteriornya terbuat dari kayu jati emas dengan sebuah ruang terbuka diapit 4 ruang kecil disekelilingnya yang berfungsi sebagai dapur dan kamar. Tiket masuknya gratis.

Bagian Depan Khun Phaen Residence

Bagian Depan Khun Phaen Residence

5. Wat Lokaya Sutharam

Yang paling menonjol dari kuil ini adalah patung Budha tidurnya (Reclining Budha). Dengan panjang sekitar 40 meter dan tinggi 8 meter, Budha tidur ini memang tampak mengesankan. Berbeda dengan patung Budha tidur di kuil Wat Pho, patung ini berada di area terbuka karena kuil yang menaunginya sudah terbakar habis. Sekarang patung ini hanya diselimuti kain kuning untuk melindunginya dari hujan dan matahari.

Reclining Budha di Wat Lokayasutham

Reclining Budha di Wat Lokaya Sutharam

6. Ayutthaya Floating Market

Tempat terakhir yang kami datangi adalah Ayutthaya Floating Market yang terletak diluar pulau Ayutthaya. Floating market ini memang dibangun untuk turis jadi sifatnya tidak alami sehingga serasa pergi ke tempat rekreasi saja. Tiket masuknya gratis dan didalam terdapat berbagai macam atraksi untuk menghibur para pengunjung yang sibuk berbelanja. Salah satu pertunjukkan yang saya saksikan sore itu adalah pertunjukkan drama. Panggungnya berada di sebuah pulau ditengah kolam sehingga pemainnya juga beraksi menggunakan perahu. Penontonnya (termasuk saya) banyak melihat dari atas jembatan kayu yang letaknya memang strategis karena berhadapan dengan panggung. Dramanya cukup menarik walaupun disajikan dengan bahasa Thailand. Sebetulnya pengen sekali melihat pertunjukkan tersebut sampai habis. Tapi karena hari sudah sore dan kami tidak mau ketinggalan kereta ke Bangkok maka diputuskan utnuk pulang saja. Baru saja beranjak turun dari jembatan, terdengar bunyi Krakkkk keras sekali dan jembatan yang baru saya turuni itu patah disusul jeritan para penonton yang ikut jatuh ke kolam. Seketika suasana menjadi kacau balau. Para pemain drama langsung bubar, mengayuh perahu menolong para penonton yang tercebur ke kolam. Parahnya, banyak anak-anak yang juga ikut tercebur maklum saat itu hari Minggu dan sedang padat-padatnya pengunjung di tempat itu.

Bagian Dalam Ayutthaya Floating Market dan Jembatan Yang Patah

Bagian Dalam Ayutthaya Floating Market dan Jembatan Yang Patah

Bersyukur karena terbebas dari musibah, akhirnya kami cepat-cepat pulang. Hebatnya penanganan musibah itu cepat sekali, karena begitu kami sampai di pintu gerbang sudah ada mobil ambulance, mobil pemadam kebakaran, mobil polisi dan sekaligus mobil wartawan TV sudah nongkrong semua disitu. Setelah mampir ke pom bensin untuk memenuhi tangki sepeda motor (Alhamdulillah isinya tidak berkurang banyak) dan mengembalikan sepeda motor ke tempat persewaan, kami menuju stasiun untuk menunggu kereta menuju Bangkok. Peta Ayutthaya dan tempat-tempat yang telah kami jelajahi bisa dilihat pada gambat berikut :

Peta Ayutthaya. Tempat-tempat Yang Telah Dikunjungi : (1) Stasiun Kereta Ayutthaya

Peta Ayutthaya. Tempat-tempat Yang Telah Dikunjungi : (1) Stasiun Kereta Ayutthaya, (37) Wat Phra Mahathat, (51) Wat Phra Sri Sanphet, (52) Ancient Palace (50) Viharn Phra Mongkon Bopit (44) Khun Phaen’s Residence (22) Wat Lokaya Sutham

Kesimpulan akhir, bagi pecinta sejarah, arkeologi dan bangunan-bangunan kuno, Ayutthaya merupakan tempat yang tepat untuk dikunjungi karena kota itu penuh dengan reruntuhan kuil. Cocok rasanya kalau dijuluki kota seribu kuil atau wat karena hampir disetiap sudut kota terdapat reruntuhan kuil. Sedangkan bagi pecinta belanja atau wisata alam sebaiknya kunjungan ke tempat ini dihilangkan saja.

Asiatique The Riverfront

Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 ketika kereta kami sampai di stasiun Hua Lamphong. Untung saja kami mendapat kereta Express sehingga waktu pulang tidak selama saat berangkat. Dari stasiun ini kami berencana mengunjungi Asiatique, kombinasi pasar malam dan mall terbaru di Bangkok. Rute menuju tempat ini dapat dilihat pada gambar berikut :

Rute ke Asiatique

Peta rute keretanya sebagai berikut :

Rute kereta Asiatique

Pada saat jalan kaki dari stasiun Silom menuju stasiun Sala Daeng, tidak perlu bingung. Di pintu keluar stasiun Silom naik lift sampai lantai paling atas kemudian jalan melalui skyway (jalan layang) yang menghubungkan kedua stasiun itu. Peta jalan kaki dari Stasiun MRT Silom menuju stasiun BTS Sala Daeng dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Rute Jalan Kaki dari Stasiun MRT Silom ke Stasiun BTS Skytrain Sala Daeng

Rute Jalan Kaki dari Stasiun MRT Silom ke Stasiun BTS Skytrain Sala Daeng

Sesampai di Sathorn (Taksin) Pier, ambil arah kiri, di sudut ujung sebelah kiri itulah tempat kapal gratis menuju Asiatique berlabuh. Diatas jam 8 malam dermaga Asiatique Shuttle Boat akan berpindah ke tengah, tempat dermaga Chao Phraya Express Boat berada. Senang juga ke Mall sambil naik kapal, gratis lagi, bonusnya kita juga dapat menikmati pemandangan Chao Phraya River diwaktu malam dengan lampu-lampu gemerlap gedung-gedung di tepian sungainya.

Banner Penunjuk Boat Asiatique (Kiri), Free Boat Asiatique (Kanan Atas) dan Asiatique dilihat dari Chao Phraya River (Kanan Bawah)

Banner Penunjuk Boat Asiatique (Kiri), Free Boat Asiatique (Kanan Atas) dan Asiatique dilihat dari Chao Phraya River (Kanan Bawah)

Asiatique merupakan suatu pusat perbelanjaan baru yang menggabungkan konsep mall dan pasar malam. Disebut pasar malam karena jam bukanya dari jam 5 sore sampai 12 malam. Mall ini dibangun di dermaga bekas the East Asiatic Company, sebuah perusahaan pengeksport kayu jati tahun 1900 an. Pengelolanya berusaha menghidupkan kembali suasana kejayaan perdagangan jaman dulu dengan membuat replika gudang-gudang tua yang trendy. Keempat gudang (Warehouse) itu menaungi 1500 butik dan 40 restoran up market yang masing-masing memiliki tema yang berbeda. Bila ingin mencari souvenirs, handicrafts, perhiasan dan baju, kita bisa menjelajahi Charoenkrung District, sedangkan Town Square District merupakan suatu tempat makan terbuka dimana kebudayaan timur berpadu dengan barat. Berbagai macam restoran dengan menu barat dan timur berada disini. Bagi pecinta produk-produk fashion, Factory District merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan mata karena sekitar 500 butik ditempatkan disini. Kalau malas belanja dan hanya ingin duduk-duduk saja ada Waterfront District yang dipenuhi restoran berskala internasional dan bar dengan pemandangan terbuka ke arah sungai Chao Phraya. Untuk menjelajahi area-area tersebut, pengunjung dapat memanfaatkan trem gratis yang berkeliling dan berhenti di setiap area. Website resmi Asiatique dapat dilihat disini.

Bagian Dalam Asiatique (Photo By : Highlight Thailand & Pribadi)

Bagian Dalam Asiatique (Photo By : Highlight Thailand & Pribadi)

Selain sebagai tempat shopping dan dining, mall ini juga menjadi rumah untuk 2 pertunjukkan yang paling terkenal di Bangkok yaitu Calypso Ladyboy Cabaret dan Joe Louis Puppet Theatre. Kalau Calypso Ladyboy tentu saja sudah banyak yang tahu sedangkan Joe Louis dari dulu sudah terkenal dengan pertunjukkan panggung bonekanya. Didekat tempat ini juga terdapat atraksi film 4D, karena tiketnya yang tidak begitu mahal akhirnya kami mencoba juga. Lumayan seru karena kursi-kursinya ikut naik turun sesuai dengan film yang yang ada di layar. Sehabis jalan-jalan melihat toko-tokonya, kami duduk-duduk di riverfront pathway-nya, sebuah geladak kayu sepanjang 300 meter yang menyajikan pemandangan gemerlapnya sungai Chao Phraya di waktu malam. Indah dan gratis lagi. Karena perut mulai keroncongan, kami makan di Kentucky Fried Chicken yang menurut kami dari jajaran restoran di tempat itu harganya paling terjangkau oleh kantong.

Riverfront Pathwaynya (Photo By : Bangkok Post)

Riverfront Pathwaynya (Photo By : Bangkok Post)

Sehabis makan, jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Malas naik boat dan kereta lagi, akhirnya di putuskan untuk pulang naik taksi saja. Beruntung sekali ada taksi yang mau mengangkut kami tanpa banyak tanya. Tapi sampai 5 menit taksi sudah berjalan, sopir tidak menyalakan argo dan waktu kami naik tadi dia juga tidak menawarkan harga. Sempat deg-degan juga jangan-jangan kena tipu. Akhirnya saya memberanikan diri bertanya, “Sir, why you don’t turn on the meter?”. Dia celingukan melihat argonya dan dengan tenang menjawab, “Oh, I forgot to turn it on”. Ha ha ha ha, kami semua tertawa (termasuk sopir taksinya). Kalau ketemu supir taksi model begini tentu tidak sayang memberi uang lebih.

Biaya Hari Ke-5

untitled5

 
© Copyright 2018 Amazing Malang - Amazing Your Adventure

Search