Info Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Video Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Berbagi Foto Wisata
Amazing Malang

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/wwwkemas/public_html/amazingmalang.com/administrator/components/com_sppagebuilder/helpers/sppagebuilder.php on line 156

Hari Ke 1 (Pulau Samalona)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Hari Ke 1 (Pulau Samalona)

 

Dua hari sebelum berangkat, partner backpack saya yang baru pulang dari Pulau Bintan mendadak jatuh sakit karena kecapekan. Sampai detik-detik terakhir keberangkatanpun badannya masih panas dan terlihat lemas. Sempat terpikir untuk membatalkan saja perjalanan ini toh kita baru keluar uang tiket pesawat pulang pergi untuk berdua sebesar  Rp. 316.000,- dan belum booking hotel. Sempat terpikir juga untuk berangkat sendiri saja, tapi meninggalkan suami dalam keadaan sakit bersama tiga anak yang harus diurus sepertinya juga bukan pilihan yang baik. Tapi partner saya itu memang TOP banget, kasihan melihat saya yang kebingungan jadi berangkat atau tidak dia memantapkan hati dan bilang “I will be fine”, dan kita tetap jadi berangkat”. Jadi 4 jam sebelum keberangkatan jadilah saya mengepak 2 ransel dengan kecepatan tinggi :). Untung saja perginya hanya empat hari dan hanya di Indonesia gitu..

Bandara Sultan Hasanuddin

Bandara Sultan Hasanuddin

Penerbangan ke Makassar akan berangkat jam 06.30 pagi, jadi kami pesan travel jam 3 dari Malang untuk mengantar kami ke Juanda. Tidak ada hambatan yang berarti sampai mendarat di bandara Sultan Hasanuddin. Bandara ini walaupun tidak sebesar Juanda memiliki interior

dalam yang cantik dengan ornamen-ornamen khas Makassar di setiap sudutnya.  Desain eksteriornya bersifat minimalis dan eco-friendly yang bertujuan meminimalisir penggunaan energi listrik dan lebih mengandalkan cahaya matahari sebagai penerang ruangan dengan melapisi rangka bagian luarnya dengan kaca sehingga tampak lebih terang. Dari dalam plaza, calon penumpang bisa menikmati pemandangan hilir-mudik pesawat yang baru mendarat dan akan lepas landas.

Suasana Dalam Bandara Sultan Hasanuddin

Begitu keluar dari bandara, kami menuju pemberhentian Shuttle Bus dan Bus Damri Bandara. Dari bandara Sultan Hasanuddin ada beberapa cara untuk menuju pusat kota Makassar. Selain sepeda motor ojek, mobil carter dan taxi ada moda transportasi yang lebih murah yaitu Shuttle Bus Bandara (hanya mengantar sampai gerbang utama bandara dan bayarnya gratis) serta Bus Damri Bandara (mengantar sampai pusat kota dengan tiket Rp. 15.000,-). Tapi terus terang, bagi yang punya janji pertemuan bisnis jangan menggunakan kedua moda transportasi diatas karena nunggunya lamaaaaaa sekali. Kalau yang Shuttle Bus lebih mending paling setiap 30 menit sekali pasti ada yang datang tapi Bus Damrinya, perlu waktu 1,5 jam menunggu kedatangannya (hampir sama dengan penerbangan Surabaya-Makassar). Sampai sempat terpikir, jangan-jangan Bus Damrinya nggak jalan :). Rute yang dilewati Bus Damri Bandara bisa dilihat di foto ini.

Halte Bis Damri Bandara dan Rutenya

Penginapan di Makassar

Perjalanan dari bandara ke Jln. Riburane, yang menjadi halte terakhir dari Bus Damri Bandara, memakan waktu kurang lebih 1 jam 15 menit. Turun dari bis, kami berjalan kaki sekitar 350 mt menuju Jln. Jampea (China Townnya Makassar) untuk mencari penginapan. Sebelumnya setelah browsing sana-sini kami memutuskan memilih New Legend Hostel. Website resminya bisa dilihat disini. Hostel ini kami pilih karena letaknya yang strategis, murah :), bersih dan pelayanannya yang ramah. Selain New Legend Hostel di jalan ini juga banyak terdapat hotel-hotel lain seperti :  New Legend Hotel (tidak ada S-nya), Hotel Yasmin dan Wisma Jampea. Pada saat kami masuk satu-satunya kamar yang tersisa adalah Standard Double Bed dengan rate Rp. 125.000 per malam sudah termasuk makan pagi, TV Kabel, Internet Access dan AC (sayang tidak ada selimutnya) :).Seperti layaknya Hostel, di lantai 3 terdapat Simple Lounge dan dapur mini.

Kamar Kami Di New Legend Hostel

Waktu pertama kali datang ke Jln. Jampea kami nyasar ke New Legend Hotelnya. Heran juga masak hotel sebagus ini ratenya hanya seratus-an dan mereka juga heran kok tumben tamunya bawa-bawa backpack segala. Ketika saya bertanya “apakah ini hostel New Legend?”, mereka baru “ngeh” kalau kami salah alamat. Akhirnya pak satpam berbaik hati mengantar kami ke Hostel yang terletak kurang lebih 5 gedung disebelahnya. Saat mendaftar resepsionis hostel bertanya apakah kami sudah melihat hotelnya, saya menjawab sudah, tapi saya lebih cocok disini. Mbak Rina, resepsionis yang baik itu menjelaskan kalau turis Indonesia jarang menginap di sini (Hostel) karena mereka lebih suka menginap di Hotelnya. Kebetulan saat itu kami satu-satunya orang Indonesia yang menginap di sana (bleeh..serasa nginep di hostel luar negri aja :)).

Bagian Depan Hostel New Legend (Kiri), Gerbang Jln. Jampea (Kanan Atas), Halte Bis Damri Bandara Jln. Riburanne (Kanan Bawah)

Nasi Kuning Riburane

Setelah check inn, kami jalan kaki kembali ke jln. Riburane melewati gedung Societeit De Harmonie yang kuno dan indah tapi sayangnya tidak terawat. Seterusnya melewati halte bis Damri Bandara menuju RM. Nasi Kuning Riburane yang terkenal itu. Walaupun bukan merupakan kuliner asli Makassar, nasi kuning rupanya sudah menjadi makanan yang ngetop di kota ini. Berbeda dengan nasi kuning di Jawa, nasi kuning Riburane ditemani dengan telur pindang rebus, sayur labu siam, sayur nangka, dendeng daging, abon dan kering kentang yang kesemuanya cenderung asin. Harga perpiringnya Rp. 25.000,- dan disajikan dalam porsi besar (bisalah dimakan berdua).

RM. Nasi Kuning Riburane

Pulau Samalona

Dengan perut kenyang (alhamdulillah), kami berjalan kaki ke Dermaga POPSA yang terletak persis di depan Benteng Rotterdam untuk mencari perahu menuju Pulau Samalona. Sewa perahu yang ditawarkan berkisar 500 ribuan. Belum menemukan harga yang cocok akhirnya diputuskan jalan kaki sedikit lagi ke Dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga yang umurnya setua Pelabuhan Pao Tere ini terletak di belakang hotel dan pertokoan di jln. Pasar Ikan. Gerbang masuknya mudah dikenali dengan tulisan Cafe Dermaga Kayu Bangkoa. Semenjak revitalisasi Pantai Losari, dermaga ini semakin berperan penting dalam kehidupan masyarakat sebelas pulau di sekitar Makassar karena tukang perahu yang sering mangkal di Pantai Losari sekarang dipindahkan ke dermaga ini. Sayangnya, peningkatan peran ini tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik. Areanya dibiarkan menyempit dan tidak dilengkapi dengan fasilitas umum yang memadai.

Dermaga Kayu Bangkoa

Hampir 15 menit kami duduk-duduk di dermaga ini melihat orang-orang lalu lalang naik turun kapal sambil iseng-iseng tawar menawar dan ngobrol dengan tukang perahu ke Pulau Samalona. Akhirnya disepakati harga Rp. 300.000 pulang pergi dan perjalanan akan memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah melewati pulau Lae-Lae, angin bertiup cukup kencang dan mendung mulai merayap di kaki langit. Bapak tukang perahu mulai ngebut berlomba dengan mendung menuju Pulau Samalona. Betul juga ketika merapat di Samalona, hujan deras langsung turun. Kami nekat saja pakai jas hujan jalan-jalan keliling pulau yang luasnya tidak lebih dari 2.34 hektar ini. Pulau ini dulu luasnya 6.7 Ha tapi makin lama makin menyusut dan mungkin seperti Pantai Kuta, dimasa depan pulau ini akan menghilang.

Pintu Gerbang Pulau Samalona

Ketika hujan semakin deras kami diundang salah satu penduduk untuk berteduh di rumahnya, salah satu keramahan orang Indonesia yang saya suka :). Sambil berteduh saya ngobrol sana sini dengan pemilik rumah. Pulau Samalona dimiliki oleh 7 orang yang saling bersaudara (makanya wajah orang sepulau mirip-mirip). Kebanyakan rumah-rumah disana disewakan untuk wisatawan, rumahnya ada yang bergaya tradisional dan modern. Tarif menginap berkisar Rp. 300.000 – Rp. 400.000 per rumah dan Rp. 150.000 – Rp. 200.000 kalau tidak menginap. Karena tidak ada sekolah, sedari kelas 1 SD anak-anak Samalona sudah mulai ditipkan atau kost di rumah saudara di Makassar (kasian :() dan buat ibu-ibu disana melahirkan di rumah hanya ditolong oleh saudara (bukan bidan atau dukun beranak) adalah hal yang biasa.

Salah Satu Penginapan Di Samalona

Secara keseluruhan pantainya memang indah, landai dengan pasir putih dan air laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Cocok juga buat snorkeling karena terumbu karangnya masih bagus sehingga banyak anemon-anemon laut dan ikan-ikan macam Clownfish, Angelfish yang berseliweran. Kalau tidak suka snorkeling bisa berenang-renang karena pantainya dangkal dan dasarnya tidak berbatu. Fasilitas umum yang disediakan antara lain mushola yang terletak di tengah pulau dan minimarket yang menjual minuman dan makanan serta persewaan alat snorkeling. Sayangnya saat saya berkunjung kesana sampah-sampah bekas pengunjung masih berserakan di pantai dan sewa kamar mandinya mahal sekali (Rp. 15.000 per orang). Pulau yang bagus dan pantai yang indah tapi lagi-lagi kurang dikelola dengan baik.

Fasilitas Dalam Pulau Samalona (Minimarket, Mushola dan Kamar Mandi Rp. 15.000 per orang)

Samalona Di Hari Yang Cerah (Photo By : Ardyanto Tjowari)

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam, kami kembali ke Dermaga Kayu Bangkoa dan berjalan kaki pulang ke hostel. Selepas Maghrib, kami berencana wisata kuliner di seputaran Karebosi. Hujan yang turun cukup deras menjadi rejeki tukang becak yang kami tumpangi sampai Konro Karebosi. Asyik  juga karena sudah lamaaaaa sekali tidak naik becak berdua :).

Konro Karebosi

Terletak di jln. Gunung Lompobattang rumah makan ini (katanya) sudah berdiri sejak saya belum lahir dan sekarang sudah membuka cabang di Kendari, Jakarta dan Surabaya. Menu yang disajikan antara lain Konro Bakar, Sop Konro, Coto Makassar dan Sop Saudara. Saya tentu saja mencoba Konro Bakarnya yang terkenal. Berbekal dari pengalaman Nasi Kuning Riburanne, kali ini pesannya satu porsi saja ditambah nasi 2 piring. Betul saja Konro Bakarnya disajikan dalam porsi besar. Daging iga sapi bakar yang masih menempel pada tulangnya disajikan dengan guyuran bumbu kacang ditemani kuah sop konro berwarna kehitaman yang kaya rempah. Dagingnya sangat lembut dan langsung “mrothol” dari tulang. Harga untuk satu porsi Konro Bakar diluar nasi Rp. 34.000,-

Konro Bakar Karebosi

Lapangan Karebosi, Karebosi Link dan MTC Karebosi

Dari rumah makan Konro Karebosi, kami berjalan kaki kurang lebih 15 menit ke Lapangan Karebosi salah satu lapangan paling terkenal di Makassar. Lapangan yang menjadi titik nol kilometer kota Makassar itu juga menjadi markas sekaligus tempat latihan bagi tim sepakbola PSM Makassar. Menariknya di lapangan ini terdapat 7 kuburan (masih belum diketahui kuburan siapa) yang kabarnya menguasai “dunia gaib” sekitar Karebosi. Jadi kalau mau mengadakan acara di lapangan ini disarankan “minta ijin” dulu dengan cara berziarah di kuburan tersebut.
 

Lapangan Karebosi dan Kuburannya

Pasca revitalisasi tahun 2008 yang mengundang pro dan kontra, lapangan ini nampak asri dan tertata dengan rapi. Ada tribun upacara, lapangan sepak bola untuk dewasa, lapangan sepak bola untuk anak-anak dan jogging track di sisi lapangan. Di sebelah utara terdapat Karebosi Link  yang saat ini menjadi satu-satunya mall bawah tanah di Indonesia. Mall ini disambung dengan jalan bawah tanah menuju MTC Karebosiyang terletak diseberang jalan. Kedua mall ini menjual barang-barang yang hampir sama seperti produk fashion, handphone, komputer dan alat elektronik.
 

MTC Karebosi dan Salah Satu Pintu Masuk Karebosi Link

 
Setelah puas melihat-lihat, kami jalan kaki kembali ke hotel yang berjarak kurang lebih 15 menit jalan santai atau sekitar 850 mt. Hitung-hitung olahraga menghilangkan lemak-lemak Konro Bakar :).

Biaya Hari Ke-1

sumber: https://jejakvicky.com/2012/02/21/hari-ke-1-pulau-samalona/

 

© Copyright 2018 Amazing Malang - Amazing Your Adventure

Search