Info Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Video Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Berbagi Foto Wisata
Amazing Malang

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/wwwkemas/public_html/amazingmalang.com/administrator/components/com_sppagebuilder/helpers/sppagebuilder.php on line 156

Hari Ke-1 (Surabaya – Kuala Lumpur – Hongkong)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Hari Ke-1 (Surabaya – Kuala Lumpur – Hongkong)

 

Dalam perjalanan kali ini saya hanya berangkat berdua bersama partner backpack “sepanjang masa” (I really hope) yaitu suami saya. Reroute penerbangan Surabaya – Kuala Lumpur mengharuskan kami sudah ada di bandara jam 3 pagi, karena pesawat menuju Kuala Lumpur akan berangkat jam 5 pagi. Susah juga mencari travel Malang-Surabaya yang mau berangkat jam 1 malam karena rata-rata mereka berangkat jam 2. Tapi dasar rejeki, akhirnya kami mendapat travel yang mau berangkat jam 1 dengan harga yang sama. Perjalanan yang biasanya ditempuh 2-3 jam pada siang hari hanya ditempuh dalam waktu 1,5 jam pada malam hari (enaknya!). Jadi jam 2.30 kami sudah duduk manis di Juanda sambil menunggu pintu dibuka yang ternyata baru buka jam 3.30. Pantesan travel Malang-Surabaya baru dimulai jam 2.

Suasana Juanda Dini Hari

Setelah melewati imigrasi dan kios check in, jam 5.10 pesawat terbang menuju LCCT Kuala Lumpur dan mendarat tepat jam 08.45. Penerbangan selanjutnya menuju

Hongkong akan berangkat jam 13.50 jadi waktu tunggu sekitar 2 jam akan kami gunakan untuk mengunjungi KLIA, bandara tetangga tapi beda kelas. Maklum walaupun sudah beberapa kali ke Malaysia tidak pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di bandara ini. Selain kebanyakan terbang dengan Air Asia, giliran pakai pesawat full board eh tidak mendarat di sini.

Kuala Lumpur International Airport (KLIA)

Didesain oleh arsitek dari Jepang, Kisho Kurokawa, interior dalam KLIA berbentuk seperti tenda suku Badui sementara bagian luarnya dirancang berbentuk futuristik dengan hamparan kaca dari atap bangunan hingga kakinya sehingga terkesan luas dan terang.

Interior Dalam dan Luar KLIA

Dibangun di area seluas 10.000 hektar yang dulunya adalah perkebunan karet dan kelapa sawit, pengelola KLIA berusaha menciptakan bandara ramah lingkungan dengan konsep “Airport in the Forest dan “Forest in the Airport”.  Konsep tersebut diwujudkan dengan membuat arboretum hutan hujan didalam bandara dan hutan tropis buatan di luarnya. Bila ingin menikmati keindahan hutan tropis dalam airport ini jelajahi saja KLIA Jungle Boardwalk.

KLIA Jungle Boardwalk

Berjarak sekitar 20 km dari LCCT, bandara KLIA ini dapat dicapai dengan menggunakan bis. Dari LCCT kita dapat naik bis Nadi Putra dengan tarif 2.50 RM sekali jalan. Bis-bis ini dapat dijumpai di area Shuttle Service KLIA-LCCT. Sebaliknya dari KLIA, bis menuju LCCT dapat dijumpai di platform No. 10 dengan tarif sama dan berangkat setiap 30 menit sekali.

Shuttle Bus KLIA-LCCT

Setelah puas menjelajahi KLIA, kami kembali ke LCCT dan makan siang di KFC. Enaknya makan disini karena minumnya bisa kita refill berulangkali. Setelah makan siang, kami bersiap-siap untuk penerbangan selanjutnya menuju Hongkong.

Pesawat kami mendarat tepat pukul 17.45 di Hongkong International Airport yang terletak di Chek Lap Kok, pulau terbesar buatan manusia, di sebelah utara Lantau. Pulau ini dihubungkan dengan beberapa jembatan dan satu yang paling terkenal adalah Tsing Ma Bridge. Jembatan sepanjang 2,2 km ini merupakan salah satu “Suspension Bridge” terbesar di dunia yang mampu menyangga jalan raya dan rel kereta Airport Express yang menghubungkan Chek Lap Kok dan Hongkong Island via Kowloon.

Tsing Ma Bridge

Selama di Hongkong, kami akan menginap di Golden Crown Guest House yang terletak di Nathan Road, salah satu jalan terpanjang di area Tsim Sha Tsui. Setelah urusan imigrasi selesai, sesuai arahan dari website hostel kami menuju Airbus Station yang terletak dekat Hall B untuk naik bis A21 menuju Kowloon. Tapi sebelumnya kami mampir dulu di loket Airport Express (MTR yang menghubungkan Airport dengan Central) untuk membeli kartu sakti “Octopus Card”.

Octopus Card

Bila Singapura punya EZ-Link maka Hongkong punya Octopus Card. Kartu ini dirancang untuk dapat digunakan di MTR dan ketujuh bentuk moda transportasi yang lain seperti : kereta api, Motor Bus, City Bus, Ferry, Taxi dan Trem  (termasuk The Peak Tram). Makanya kartu ini dinamakan Octopus yang juga berarti delapan. Selain itu Octopus Card juga dapat digunakan untuk membayar meteran parkir, makan di restoran (Starbucks, McDonalds), dan belanja di supermarket (ParknShop, Wellcome, 7-Eleven, Circle K). Pilihan restorannya tidak hanya di Hongkong tapi juga beberapa restoran di Shenzhen dan Macau. Saking saktinya, kartu ini bahkan berfungsi sebagai kartu absen dan kartu peminjaman perpustakaan bagi banyak sekolah di Hongkong.

Octopus Card dan Salah Satu Kelas Yang Menggunakan Octopus

Octopus Card untuk dewasa harganya HKD 150 dengan refundable deposit sebesar HKD 50 dan dapat dibeli di bagian customer service di semua stasiun MTR, LRT, New World First Bus dan Ferry. Dengan kartu ini kita dapat menghemat biaya transport, karena tarif Octopus berbeda sekitar 5-10% dibanding tarif biasa. Selain itu juga mengurangi kerepotan saat naik bis karena harus pakai uang pas (sopir bis tidak mau repot ngasih kembalian). Pokoknya selama di Hongkong, Octopus Card begitu berjaya tapi sedihnya untuk beli minuman di vending machines pun kebanyakan pakai kartu Octopus sehingga tidak ada jalan untuk membelanjakan uang receh. Walhasil saat pulang, koin Hongkong kita jadi banyakkk sekali he he he…

Naik Bis Di Hongkong

Setelah mengantongi kartu sakti, kami menuju ke tempat pemberhentian bis yang masih terletak dalam area bandara. Jangan kuatir tersesat karena arah penunjuknya banyak dan jelas. Sebelum naik bis, jangan lupa mengambil peta yang banyak tersedia di bandara. Seperti juga di Singapura, bis di Hongkong hanya berhenti di tempat pemberhentian yang ditentukan, masuk lewat depan (jangan lupa antri) dan keluar lewat belakang. Khusus untuk bis yang lewat di airport disediakan rak besar dibelakang sopir untuk menaruh koper dan barang. Bis memang menawarkan pemandangan kota yang lebih indah dari MTR walaupun naik bis tingkat kesulitannya lebih tinggi selain itu ada beberapa atraksi di Hongkong yang memang tidak terjangkau MTR seperti Ocean Park dan Repulse Bay. Enaknya bis di Hongkong ini punya website yang ciamik, dua diantaranya adalah di http://www.nwstbus.com.hk/home/default.aspx dan http://www.kmb.hk/en. Di website tersebut akan ditunjukkan nomor bis dan tarif dilengkapi pula dengan nama dan foto dari tempat-tempat pemberhentiannya.

Hongkong Bus dan Tanda Bus Stop

Perjalanan dari bandara ke daerah Tsim Sha Tsui kurang lebih ditempuh dalam waktu 1 jam. Setelah turun dari bis banyak sekali calo-calo penginapan dan tukang pijat yang mengerubuti kami. Untung saja setelah dibilang kalau kami sudah punya penginapan dan sudah bayar mereka bubar sehingga kami bisa mencari alamat dengan tenang.

Golden Crown Guest House

Guest house ini terletak di gedung Golden Crown Court bersama dengan beberapa guest house yang lain. Guest house ini saya pilih, selain harganya yang murah (HKD 300 permalam untuk Double Room with AC) juga lokasinya yang strategis. Disamping dekat dengan stasiun MTR Tsim Sha Tsui dan tempat pemberhentian bis juga dekat dengan Masjid Kowloon dan beberapa tempat atraksi yang lain seperti :Avenue of The Star, Ladies Market dan Temple Market. Sebenarnya tidak jauh dari gedung ini terdapat Mirador Mansion dan Chungking Mansion yang juga memuat puluhan hostel murah tapi gedung Golden Crown Court ini saya pilih karena relative lebih aman karena ada satpam dan tidak ada toko-toko dibawahnya.

Golden Crown Guest House

Setelah memberikan print tanda booking dan pembayaran uang muka kepada resepsionis yang tidak bisa berbahasa Inggris mereka mengantar kami ke kamar yang sudah dipesan. Jangan bayangkan kamar yang luas, kamarnya hanya berukuran 3×3 dengan tempat tidur Double, kamar mandi dalam dan TV flat yang menggantung di dinding dan kasurnya hiks kerasnya minta ampun. Serasa ngekos aja. Tapi selain kesempitan itu semuanya cukup bersih dan nyaman. Mereka juga menyediakan microvawe, mesin cuci, air panas dan 1 unit computer dengan internet. Untuk pemesanan cukup mengisi form resevasi di website mereka disini http://www.goldencrownhk.com/reservations/en. Setelah mandi, sholat dan mengganjal perut dengan pop mie dan sisa makan siang, kami pun siap menjelajah atraksi terdekat yaitu Avenue of The Star. Saat itu sudah jam 9 malam jadi pertunjukkan Symphony of Lights sudah usai.

Avenue Of The Star

Terletak di sepanjang Tsim Sha Tsui Promenade berdampingan dengan Museum of Art, Space Museum, Cultural Centre dan Clock Tower, jalan sepanjang 440 meter ini dipenuhi oleh sekitar 73 cap tangan atau kaki artis-artis perfilman Hongkong. Jalan ini tergolong baru, karena baru selesai dibangun tahun 2004 oleh pihak swasta New World Group sebelum akhirnya diserahkan kepada pemerintah Hongkong sebagai milik umum.

Avenue Of The Star

Dari hotel, kami cukup berjalan kaki ke Selatan menuju pintu masuk Salisbury Garden. Dari taman ini papan penunjuk menuju Avenue of The Star terlihat jelas. Area ini ditandai dengan adanya patung replika dari acara Hongkong Film Awards setinggi 4.5 meter berupa seorang wanita berbusana rol film berwarna hitam.

Tsim Sha Tsui Promenade

Di waktu malam pemandangan dari area ini memang spektakuler, karena pancaran lampu-lampu gedung di Hongkong Island yang sangat indah. Dipisahkan oleh Victoria Harbour seolah-olah gedung-gedung tersebut mengambang diatas air. Tempat ini juga merupakan tempat yang ideal untuk melihat pertunjukkan Symphony of Lights. Di ujung jalan Avenue of The Star terdapat salah satu landmark kota Hongkong yaitu Clock Tower atau Tsim Sha Tsui Clock Tower.

Clock Tower

Menara jam setinggi 44 meter yang selesai dibangun tahun 1915 ini sebenarnya dulunya merupakan bagian dari gedung stasiun kereta api Kowlon-Canton yang sekarang sudah pindah di Hung Hom station. Pada saat bangunan stasiun itu akan diruntuhkan datanglah protes dari The Heritage Society sehingga sebagai jalan tengah bangunan tetap diruntuhkan dengan menyisahkan hanya Clock Tower-nya saja. Dahulu, menara ini terbuka untuk umum dimana ada tangga kayu untuk mencapai puncaknya. Tapi sekarang menara ini tertutup untuk umum dalam rangka perbaikan.

Clock Tower dan Lampionnya (Photo By : Hongkong Digital Vision)

Kebetulan saat kami disana bertepatan dengan perayaan Mid-Autumn Thematic Lantern Exhibition 2011 sehingga kolam di depan Clock Tower penuh dengan hiasan-hiasan lampion yang indah menggambarkan para kelinci sedang bermain di arena playground. Kebetulan saat itu tema yang diusung adalah “Moon, Fun Playground” jadi disitu terdapat lampion berbentuk Roller Coaster, Komidi Putar dan Bumper Car. Setelah puas berfoto, kami berjalan kaki menuju ke hotel.

Lampion-Lampion di Depan Clock Tower (Photo By : Hongkong Digital Vision)

Biaya Hari Ke-1

sumber: https://jejakvicky.com/2011/10/20/hari-ke-1-surabaya-%E2%80%93-kuala-lumpur-%E2%80%93-hongkong/

 
 
© Copyright 2018 Amazing Malang - Amazing Your Adventure

Search