Info Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Video Wisata dan Lainnya
Amazing Malang
Berbagi Foto Wisata
Amazing Malang

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/wwwkemas/public_html/amazingmalang.com/administrator/components/com_sppagebuilder/helpers/sppagebuilder.php on line 156

Hari Ke-3 (Hongkong)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Hari Ke-3 (Hongkong)

 

Terinspirasi salah satu judul film “Minggu Pagi Di Victoria Park” saya jadi sangat tertarik untuk memasukkan taman ini ke dalam daftar itinerary saya. Maka jadilah hari ke 3 ini rencananya akan kami habiskan untuk menjelajahi taman-taman di kota Hongkong. Disamping gratis, keluyuran di taman merupakan kegiatan favorit saya. Selain menyejukkan jiwa dan mata, mengamati orang yang lalu lalang di taman setidaknya memberikan sedikit gambaran tentang budaya warga setempat (cieh..sok..).

Hongkong Park

Setelah sarapan, jam 7 pagi seperti biasa kami sudah cabut dari hostel. Tujuan pertama adalah

Victoria Park yang terletak di Hongkong Island. Dari stasiun Tsim Sha Tsui kami naik MTR sampai stasiun Admiralty, kemudian pindah jalur ke stasiun Tin Hau. Di Tin Hau keluar di exit A1 dan jalan kaki ke Victoria Park.

Victoria Park

Taman ini dinamai menurut Queen Victoria, Ratu Inggris yang patungnya diletakkan di gerbang utama yang menghadap jalan Causeway Road. Terkenal juga sebagai kampung orang Indonesia saking banyaknya TKW (BMI) yang sering ngumpul-ngumpul disini kalau hari Minggu. Dulunya taman ini merupakan tempat kongkow-kongkow para TKW Philipina, setelah kalah jumlah dengan TKW Indonesia mereka akhirnya memindahkan diri ke seputaran Statue Square di Central. Sebagai taman terbesar di Hongkong Island, taman ini memang memiliki fasilitas yang lengkap. Ada yang berbayar seperti : Bowling Green, Tennis Court tapi ada juga yang gratisan seperti : Children Playground, Basketball Court, Fitness Station dan Jogging Trail.

Patung Queen Victoria dan Sudut Tertawa Di Victoria Park

Pada saat saya keluyuran disini banyak sekali warga Hongkong yang berolahraga, ada yang jalan kaki, lari-lari tapi lebih banyak yang Tai Chi baik berkelompok atau sendiri-sendiri. Waktu yang tepat untuk mengunjungi taman ini adalah bulan Maret saat diadakan Hongkong Flower Show yang merubah Victoria Park menjadi taman sejuta bunga dan bulan September saat Mid Autumn Festival waktu diadakannya festival lampion di tempat ini.

Latihan Tai Chi (Lonely Planet) dan Flower Festivals di Victoria Park (Travelermania.com)

Setelah menjelajahi taman ini hampir kurang lebih 1 jam, kami berjalan kaki ke daerah Causeway Bay. Di tengah jalan, mampir dulu di Wellcome Supermarket untuk beli cemilan dan minuman. Dibandingkan dengan 7 Eleven, supermarket ini jauh lebih lengkap dan murah. Bahkan ada beberapa barang yang harganya lebih murah daripada supermarket Indonesia sebagai contoh : harga 1 kg anggur merah hanya HK$21 atau sekitar Rp. 25.000 saja.

Causeway Bay

Sebagai salah satu pusat belanja paling top di Hongkong, Causeway bay dipenuhi oleh berbagai macam mall. Ada yang besar macam Sogo dan Times Square tapi ada juga yang kecil seperti World Trade Centre dan Lee Gardens. Bukan hanya mall, bagi penggemar buku di tempat ini juga terdapat Hongkong Central Library dan bagi penggemar fotografi Causeway Bay Typhoon Shelter (Marina) merupakan tempat yang tepat untuk memotret Yachts dan China Junks Boats.

Suasana Causeway Bay Di Pagi Hari

Termasuk dalam salah satu tempat sewa mall termahal di dunia, jangan bayangkan area ini jalan-jalannya sebesar kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya atau Jakarta. Times Square, mall yang paling ngetop disana hanya terletak di jalan kecil dibelakang sebuah gedung. Untuk mencapai mall ini dari Victoria Park ikuti terus penunjuk jalan ke arah MTR Causeway Bay, masuk ke stasiun ini tapi jangan naik keretanya, jalan saja terus ke Exit A kemudian ikuti penunjuk arah ke Times Square.

Jardines Bazaar dan Jardine Crescent

Bila suka pasar terbuka, di area ini juga terdapat Jardine’s Bazaar yang menjual makanan kering tradisional dan Jardine’s Crescent yang menjual aksesoris, baju, tas dan sepatu. Kedua tempat ini dapat dicapai dari MTR Causeway Bay Exit F.

The Peak

Dari daerah Causeway Bay, kami naik MTR ke stasiun Admiralty. Di stasiun ini keluar di exit C1, jalan kaki sedikit ke depan Admiralty Garden dan Queensway Plaza kemudian naik bis No. 15 menuju The Peak. Perjalanan dengan bis selama 30 menit ini menawarkan lebih banyak pemandangan indah daripada naik The Peak Tram. Melewati Stubbs Road yang berkelok-kelok mengingatkan saya akan kelokan jalan Batu – Pujon, sempitnya sama cuman jalan yang ini lebih tahan longsor karena salah satu sisinya sudah di tembok. Untuk pemandangan yang maksimal, naik saja di tingkat atas (bisnya berbentuk Double Decker). Dari atas, kita akan melihat bagian belakang gedung-gedung di daerah Central, Wan Chai dan Causeway Bay dilatar belakangi pemandangan selat Victoria Harbour yang indah.

Pemandangan Dari Bis Menuju The Peak

Bis yang kami tumpangi berhenti di terminal bis The Peak Galleria, pusat perbelanjaan yang terletak persis di seberang Peak Tower. Shopping Centre dua lantai ini dipenuhi toko-toko yang berjualan baju, souvenir, dan perhiasan. Tidak ada yang menarik di tempat ini kecuali Viewing Deck-nya (terletak di lantai 3) yang berukuran lebih besar daripada deck serupa di  Peak Tower.  Sayangnya pemandangan ke arah Victoria Harbour di tempat ini terhalang oleh bangunan Peak Tower di depannya. Di Dekat The Peak Galleria ini terdapat Visitor Information Centre yang uniknya berada dalam trem kuno yang dulunya pernah beroperasi sampai tahun 1989.

Viewing Deck Di The Peak Galleria dan Visitor Information Centre

Dari The Peak Galleria, kami menyeberang menuju Lion Pavillion di Findley Path. Viewing deck bertingkat dua sumbangan dari The Lions Club Of Tai Ping Shan ini juga menawarkan pemandangan indah seputaran Hongkong dan jalur The Peak Tram. Sayangnya pavillion ini sangat sempit sehingga orang harus sabar menunggu diluar bila penuh.

Lion Pavillion

Setelah puas menikmati pemandangan dari Lion Pavillion, kami menuju Peak Tower. Gedung yang bagian atasnya berbentuk wajan ini didesain supaya tahan dengan kecepatan angin 270 km/h atau setara dengan Typhoon No.10 (maklum ini Hongkong, surganya Typhoon). Selain toko dan restoran, di Level P1 terdapat Museum Lilin Madame Tussaud dengan 100 koleksi boneka lilin dari para negarawan, olahragawan sampai artis dan seniman. Mulanya saya ingin beli tiket 3 in 1 combo package yang meliputi Single Peak Tram+Madame Tussaud+Sky Terrace, sayangnya saya tidak baca tulisan kecil di websitenya yang menyatakan bahwa Combo Tiket hanya bisa dibeli di Garden Road Peak Tram Terminus..ha ha (lha wong saya naiknya nggak pakai tram). Akhirnya, hanya beli tiket Madame Tussaudnya saja dan batal naik ke Sky Terrace.

The Peak Tower dan Suasana Di Dalamnya

Di museum lilim Madame Tussaud ini ada 2 patung yang menurut saya cukup unik yaitu patung lilin Miriam Yeung, artis dan penyanyi Hongkong, yang dipasangi sensor sehingga bisa tertawa dan patung Andy Lauyang terbuat dari silikon (dan bukan lilin) yang detak jantungnyapun bisa terdengar. Lebih jauh tentang museum lilin ini bisa diklik di http://www.madametussauds.com/HongKong/en/Default.aspx. Setelah hampir 2 jam berfoto narsis dengan para selebritis dunia itu, kami menuju viewing deck gratis di lantai 5 sebagai ganti karena tidak bisa naik ke Sky Terrace. Pemandangan dari sini walaupun tidak sespektakuler pemandangan dari Sky Terrace, cukup lumayan mengingat harganya yang gratis.

Cuma Sepinggang Yao Ming

Usai menikmati pemandangan dari lantai 5, kami turun ke terminal The Peak Tram. Dulunya orang mencemooh dan menertawai ketika Alexander Findlay Smith mengemukakan rencananya untuk membangun Trem yang bisa naik sampai ke The Peak. 7 tahun kemudian mereka juga ikut bangga ketika Trem pertama mulai berjalan. Walaupun usianya sudah ratusan tahun, tidak pernah terjadi kecelakaan di lintasan ini. Padahal lintasan sejauh 1,4 km yang dilalui memiliki tingkat kemiringan sampai 27 derajat dan lintasannya naik terus sampai ketinggian 396 mt diatas permukaan laut.

The Peak Tram Dari Luar Dan Dalam

Dari hasil surfing gambar-gambar dan cerita di internet, saya tertarik sekali untuk naik The Peak Tram. Jadi kami memutuskan pulangnya akan naik trem ini. Setelah bayar pakai Octopus Card bersama-sama turis yang lain siap-siap merasakan naik trem kuno ini. Bayangannya, saya akan naik trem tua di lintasan yang meliuk-liuk dengan pemandangan indah di sekitarnya pokoknya seperti Katon Bagaskara di Video Clip Negeri Di Awan deh he he he. Tapi yaiks..lagi-lagi meleset..karena kita naik waktu pulang, jadi jalannya mundur. Sempat terpikir di satu titik mungkin tremnya akan memutar, ternyata sampai perjalanan berakhir tremnya tetap jalan mundur. Lintasannya ternyata tidak meliuk-liuk tapi lurus dari atas ke bawah dan perjalanannya tidak lama hanya 7 menit. Jadi waktu sampai di terminusnya masih bengong, yaelah ternyata “cuman” segini aja rasanya naik trem terkenal seantero Hongkong (he he he). Website resmi The Peak dapat diakses di sini http://www.thepeak.com.hk/en/home.asp.

Hongkong Park

Begitu turun dari The Peak Tram, kami berjalan kaki ke arah kanan menuju Hongkong Park yang letaknya tidak begitu jauh dari terminal trem tersebut. Ada dua hal yang menjadikan taman seluas 8 hektar ini menjadi menarik. Pertama, adanya Edward Youde Aviary yang merupakan kandang burung terbesar di Hongkong. Kandang seluas 3000 m2 ditutupi jaring-jaring dengan ketinggian 30 mt. Di dalamnya pengunjung dapat menjelajahi kandang ini melalui jembatan kayu yang dipancangkan 10 mt dari permukaan tanah sehingga jarak pandang dengan burung-burung itu sangatlah dekat. Rasanya bukan seperti jalan-jalan di Hongkong tapi serasa berjalan di hutan hujan yang penuh burung berkicau. Melihat kandang burung ini saya jadi bangga sekaligus sedih karena dari 100 jenis burung yang ada kebanyakan malah berasal dari hutan Indonesia. Disini mereka dirawat dengan baik, tapi di negrinya sendiri malah disia-sia dengan penebangan hutan yang sembarangan.

Edward Youde Aviary Dari Luar Dan Dalam

Tempat kedua yang patut dikunjungi adalah Flagstaff House Museum of Tea Ware. Bagi penggemar keramik dan peralatan minum teh, museum ini merupakan tempat yang tepat untuk dikunjungi. Koleksinya meliputi sejumlah keramik dari jaman dinasti Song sampai Ming, juga peralatan minum teh antik baik yang terbuat dari porselen sampai yang terbuat dari Yixing Clay yang terkenal dengan warna-warninya. Menariknya lagi museum ini tiket masuknya gratis.

Flagstaff House Museum of Tea Ware dan Salah Satu Koleksi Uniknya

Dari Hongkong Park, kami jalan kaki kembali ke The Peak Tram Lower Terminus untuk naik bis 15 C yang pemberhentiannya persis berada di sebelah gedung ini. Bis berbentuk open deck ini (naik saja di tingkat atas) membawa kami ke Central Pier melewati daerah Central yang merupakan pusat bisnis Hongkong. Lumayan juga, dari atas bis kami bisa melihat gedung-gedung tinggi menjulang dan kesibukan orang yang lalu lalang di kawasan itu.

Turun di Central Pier, kami berjalan kaki menuju Central Pier No.2. Dari pelabuhan ini kami naik ferry (bisa bayar pakai Octopus) menyeberang ke Ma Wan Island tempat Ma Wan Park dan Noah’s Ark berada.

Ma Wan Island

Kami tiba di Ma Wan Island sekitar jam 3 sore. Perjalanan selama 15 menit menggunakan ferry sangatlah nyaman karena sepi penumpang dan tempat duduknya empuk (sampai hampir ketiduran). Untuk perjalanan sesingkat itu saja, di setiap tempat duduk disediakan pelampung yang terlipat rapi di setiap kursi. Sempat surprise juga, karena seumur-umur naik ferry menyeberangi selat Bali yang notabene durasinya lebih panjang dan lebih berbahaya tidak pernah kelihatan namanya pelampung di tiap kursi. Boro-boro pelampung, kursi saja terkadang tidak kebagian he he he..

Ferry Menuju Ma Wan Island

Dari Park Island Pier kami masih harus berjalan kurang lebih 600 mt menuju tengah pulau. Rencananya ada 3 tempat yang ingin kami kunjungi yaitu : Ma Wan Park, Noah’s Ark dan Ma Wan Tung Wan Beach. Ketiga tempat itu ternyata kurang istimewa atau masuk dalam kategori biasa saja. Ma Wan Park sebenarnya adalah taman yang bertema Fun and Learning. Di dalamnya banyak terdapat Outdoor Exhibition yang bertemakan pendidikan seperti Windmill Station, Heritage Center dan Hilltop Lookout. Sehingga diharapkan pengunjung (terutama anak-anak) dapat bermain sambil belajar.

Ma Wan Park

Sayangnya saat saya kesana, Noah’s Ark-nya sendiri malah tutup karena ada acara exhibition yang khusus dibuka untuk kalangan tertentu. Website resmi Noah’s Ark dapat dilihat disini http://www.noahsark.com.hk/eng/index.php . Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Ma Wan Tung Wan Beach. Terletak persis di bawah Tsing Ma Bridge, pantai ini memiliki pasir putih yang lembut dan airnya cukup jernih. Sayangnya, kami orang Indonesia dimana pantai-pantai yang dimiliki jauh lebih indah jadi lihat pantai segitu mah rasanya biasa.

Pintu Gerbang Noah's Ark dan Ma Wan Tung Wan Beach

Dalam perjalanan pulang ke Park Island Pier, kami mampir sebentar di supermarket Park N Shop untuk makan siang. Saat makan, angin berhembus cukup kencang sempat terpikir juga kalau ada Typhoon. Jadi setelah makan, cepat-cepat kembali ke pelabuhan untuk naik ferry ke Tsuen Wan Ferry Pier. Dari tempat ini jalan kaki sedikit ke MTR Tsuen Wan West dan naik MTR sampai Mei Foo kemudian interchange jalur merah ke stasiun Tsim Sha Tsui. Rencananya kami mau kembali dulu ke hostel untuk sholat dan istirahat sejenak sebelum menonton Symphony Of Light. Ternyata benar juga, begitu sampai di hostel sudah tertempel peringatan Typhoon Signals No.3.

Kowloon Park

Kami cukup beruntung karena hostel yang ditempati terletak sangat dekat dengan Kowloon Masjid and Islamic Centre yang merupakan satu dari empat masjid besar di Hongkong. Berada dalam satu komplek Kowloon Park, taman seluas 13 hektar yang merupakan oase ditengah hiruk pikuk daerah Tsim Sha Tsui yang ramai. Seperti taman-taman lain di Hongkong, taman ini juga memiliki fasilitas olahraga yang lengkap dan dua museum sebagai pelengkap. Sehabis sholat maghrib di Kowloon Masjid sebenarnya kami berencana ‘tengok-tengok’ sebentar ke Kowloon Park. Sayangnya saat itu hujan turun sehingga acara tengok-tengok jadi batal dan sembari berjalan ke Avenue Of The Star kami mampir dulu di Mirador Mansion dan Chungking Mansion.

Kowloon Park (Photo By : chinatravelguide.com)

Mirador Mansion dan Chungking Mansion

Terletak tidak jauh dari gedung Golden Crown Court, kedua gedung ini menjadi begitu terkemuka dengan banyaknya hostel murah yang berlokasi di dalamnnya. Di lantai bawah biasanya ditempati toko-toko, restoran dan money changer. Jangan tertipu dengan pintu masuknya yang terkesan kotor dan kumuh, beberapa hostel disini cukup bersih dan nyaman walaupun rata-rata kamarnya sempit dengan kasur yang keras. Di bagian bawah Chungking Mansion banyak terdapat restoran India yang halal dan sepertinya gedung ini memang dimonopoli oleh etnis India karena hampir semua pemilik tokonya orang India.

Pintu Masuk Chungking dan Mirador Mansion

Bila anda tidak sempat membeli souvenir di Ladies Market, ada sebuah toko souvenir di lantai bawah Mirador Mansion yang menurut saya harganya hampir sama. Sayangnya penjaganya ketus sekali, baru pegang-pegang kain sedikit tangan saya sudah dipukul sambil mengomel bahasa Cina (idih galak amat…untung udah belanja di Ladies Market). Setelah puas menjelajahi kedua gedung ini, kami berjalan kaki ke Avenue Of The Star untuk melihat pertunjukkan Symphony Of The Lights.

Symphony Of The Light

Pertunjukkan laser,lampu dan musik yang diikuti oleh 44 gedung di kedua sisi Victoria Harbour ini dinobatkan oleh Guinness World Records sebagai pertunjukkan musik dan lampu permanen terbesar di dunia. Dengan durasi pertunjukkan selama kurang lebih 15 menit, Symphony Of The Light ini digelar setiap jam 8 malam. Tapi pertunjukkan sewaktu-waktu dapat dibatalkan bila pemerintah mengeluarkan Typhoon Signal No. 3 keatas. Ada 3 tempat terbaik untuk menyaksikan pertunjukkan ini. Pertama, di Avenue Of Stars. Kedua, di waterfront promenade diluar Golden Bauhinia Square di Wanchai dan Ketiga, sambil naik Star Ferry menyeberangi Victoria Harbour. Pertunjukkan ini biasanya disertai oleh narasi yang menerangkan tahap-tahap pertunjukkan. Di hari Senin, Rabu dan Jum’at digunakan bahasa Inggris sebagai narasinya, sedangkan Mandarin digunakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu dan Cantonese setiap hari Minggu. Pada event-event tertentu seperti Natal dan Tahun Baru selain laser dan lampu juga ditambah dengan pertunjukkan kembang api.

A Symphony of Lights (Photo By : hlee810.com)

Sesampai di Avenue Of The Star kami duduk manis menunggu pertunjukkan dimulai. Sekitar 5 menit kemudian dikeluarkan pengumuman bahwa pertunjukkan dibatalkan karena Typhoon Signal-nya semakin meningkat. Yah, sudahlah memang belum rejeki…

Temple Street Night Market

Batal melihat Symphony Of The Light, kami berjalan kaki menuju stasiun Tsim Sha Tsui dan naik MTR ke stasiun Yau Ma Tei. Tujuan utama ingin melihat-lihat Temple Street Night Market salah satu pasar malam yang cukup terkemuka di Hongkong. Berlawanan dengan Ladies Market, pasar ini sering juga disebut Man Market karena banyaknya baju dan “barang-barang” pria yang dijual disana. Mulai dari Jeans, T-Shirt, jam tangan sampai barang-barang bekas.

Temple Street Night Market

Disini souvenir lebih sedikit macamnya dibanding di Ladies Market. Keunggulan utama pasar ini mungkin terletak pada deretan Food Stallnya. Berderet-deret Dai Pai Dong (warung makan pinggir jalan) terletak disini. Kebanyakan mereka menjual sea food, Mie dan Chinese Food dengan harga berkisar HK$40-70 perpiring. Hari sudah menjelang malam dan typhoon signal meningkat menjadi 5 ketika kami pulang kembali ke hostel untuk beristirahat.

Biaya Hari Ke-3

sumber : https://jejakvicky.com/2011/11/14/hari-ke-3-hongkong/

© Copyright 2018 Amazing Malang - Amazing Your Adventure

Search