Balai Kota Malang
Malang, Jawa Timur
Gunung Bromo
Jawa Timur
Pantai Tiga Warna
Malang, Jawa Timur
Soto Geprak Mbah Djo
Malang, Jawa Timur
Museum Angkut
Batu, Jawa Timur

 

Hari Ke-4 : Sydney (Katoomba dan Leura)

Oleh : Vicky Kurniawan

Hari ini saya lebih cerdas dari kemarin dengan memasang alarm bangun pagi malam sebelumnya, suatu hal yang jarang saya lakukan. Maklum biasanya saya selalu terbangun dengan bisikan dan ciuman lembut dari si sulung Alina yang selalu mengajak saya sholat Shubuh (really miss them a lot). Begitu alarm berbunyi jam 5 pagi

langsung mandi dan sholat sambil berdoa dalam hati semoga teman-teman sekamar tidak ada yang terbangun.

Bukan apa-apa, takut mereka kaget saja soalnya keadaan kamar masih remang-remang. Kebayang aja kalau bangun tidur, kamar gelap terus lihat saya sholat pakai putih-putih, apa tidak jantungan :). Untunglah tidak ada yang terbangun walaupun saya mondar mandir sana sini sambil pegang senter cari barang-barang di loker.

Musim Gugur Di Wentworth Falls, Blue Mountain (Photo By : Xiomensia)

Jam 6 tepat saya sudah turun ke dapur untuk masak sarapan pagi. Selesai sarapan sekitar jam 7 mulailah cabut dari hostel. Hari ini kita berencana mampir lagi ke Sydney Coach Terminal untuk cari tiket bus ke Canberra dan Melbourne (sayang belum dapet juga jadwal yang cocok). Dari Sydney Coach Terminal dilanjutkan pergi ke Blue Mountain, sebuah kawasan pegunungan yang terletak sekitar 65 km dari Sydney.

Dinamakan Blue Mountain karena kabut biru yang terlihat mengambang menutupi gunung dan awan. Kabut tersebut berasal dari gas Terpenoid yang dihasilkan oleh pohon Ekaliptus yang banyak tumbuh di area tersebut. Dengan area hutan dan gunung seluas 10.000 km persegi termasuk 7 taman nasional didalamnya, tidaklah mengherankan kalau UNESCO akhirnya memasukkan kawasan ini sebagai salah satu World Heritage Site yang harus dilestarikan dan dilindungi.

Kabut Biru di Jamison Valley

Dari sekian banyak kota-kota kecil di area Blue Mountain, saya memilih 2 yaitu Katoomba sebagai kota terbesar dan Leura kota kecil nan cantik yang berjarak dekat dari Katoomba. Dari Sydney Central Station, Katoomba dapat dicapai dengan City Rail jurusan Blue Mountain Line yang mangkal di Platform 4 sampai 15. Saking banyaknya platform menuju Blue Mountain pastikan benar mana platform yang tepat karena nomer platform juga sering berubah sesuai jam keberangkatan.

Bagi yang membawa Smartphone dengan akses internet cek dulu Trip Planner di website City Rail sedangkan yang ‘bodongan’ seperti saya, perhatikan indikator boards dan dengarkan pengumuman yang walaupun diulang-ulang tetap terdengar tidak jelas di telinga :). Cara lain yang paling gampang adalah bertanya kepada petugas atau sesama penumpang :).

Bagian Luar & Dalam Blue Mountain City Rail

Perjalanan dari Sydney Central menuju Katoomba memakan waktu sekitar 2 jam melintasi desa-desa kecil yang indah dengan rumah-rumah khas bergaya kuno. Pemandangan ini terlihat saat kereta melintasi Nepean River menuju Emu Plains dan mulai masuk area Blue Mountain. Dari situ kita bisa melihat sekilas desa-desa kecil yang membentuk Kota Blue Mountains dimulai dari Glenbrook memanjang sampai Bathurst.

Kebanyakan bangunan dan suasananya bergaya kuno seolah-olah waktu berhenti berputar di daerah ini. Sebenarnya hal tersebut tidaklah mengherankan karena Blue Mountain City Council selalu berusaha menjaga ciri khas kota-kotanya. Saya pernah membaca sebuah makalah tentang Development Control Plan di daerah Katoomba yang berisi pedoman pembangunan bagi warga kota.

Pedomannya sangat mendetail dan cerewet mulai dari bentuk bangunan, desain luar baik cat ataupun bahan bahkan sampai pada tinggi bangunan pun diatur dalam pedoman tersebut. Jadi orang tidak bisa sembarangan membangun atau memugar, sebagai contoh : bangunan di sepanjang Lurline dan Katoomba Street harus memiliki beranda kayu (sebuah elemen penting bagi bangunan abad ke 19) sedangkan di Kedumba Emporium dinding bangunan tidak boleh dicat putih atau warna gelap.

Di daerah Pacific Drive dan Echo Point Road, luas bangunan tidak boleh melebihi 30% luas tanah dan halaman yang boleh dipaving tidak boleh lebih dari 10%. Cukup cerewet bukan? :).

Salah Satu Rumah Di Leura

Katoomba

Terletak kurang lebih 1017 mt diatas permukaan laut, kota ini sejak dahulu menjadi tempat peristirahatan warga Sydney karena hawanya yang sejuk, kotanya yang tenang dan pemandangan alamnya yang luar biasa. Tapi duluuuu sekali Katoomba hanyalah sebuah desa kecil yang kemudian berkembang menjadi kota pertambangan batubara.

Seiring dengan perkembangan tersebut orang juga semakin menyadari potensinya sebagai kota wisata sehingga sedikit demi sedikit dibangunlah hotel, jalur trekking, stasiun kereta dengan rute langsung dari Sydney dan yang paling mengagumkan dibangunnya “Giant Stairway” di Echo Point, semacam tangga turun sepanjang 300 mt dengan 800 anak tangga yang memungkinkan orang turun ke lembah Jamison Valley.

Sudut-Sudut Kota Katoomba

Ada dua cara berkeliling di Katoomba dan Leura, pertama menggunakan Blue Mountains Explorer Bus (www.explorerbus.com.au), bis bertingkat dengan sistem Hop and Off yang berangkat dari luar stasiun kereta Katoomba dan beroperasi mulai jam 9:45 pagi sampai 4:05 sore. Bis ini berhenti di 29 objek wisata, resort dan galeri di dalam dan area sekitar Katoomba dan Leura dengan harga tiket AUD $ 36 untuk dewasa.

Pilihan kedua menggunakan Tours Trolley (www.trolleytours.com.au), semacam mobil berbentuk trem dengan sistem Hop and Off juga tapi dengan tiket yang harganya lebih murah yaitu AUD $ 25. Troli berangkat dari luar Hotel Carrington yang letaknya juga berdekatan dengan stasiun kereta Katoomba. Jadwal keberangkatan dimulai dari pukul 9:45 hingga pukul 4:45.

Blue Mountain Eksplorer Bus & Trolley Tours

Begitu keluar dari stasiun Katoomba yang cantik (dibangun sejak 1874), langsung terlihat loket Blue Mountain Explorer Bus dengan deretan orang-orang yang pada antri tiket disana. Karena berencana naik Trolley Tours yang lebih murah, saya tidak ikutan antri. Persis di seberang jalan terdapat toko kecil tempat penjualan resmi tiket Trolley Tours. Saya membeli sekaligus dengan paket Scenic World seharga AU$ 45 dengan fasilitas Trolley Tours Hop and Off selama sehari, naik Scenic Railway, Scenic Walkway dan Scenic Cableway.

Stasiun Kereta Katoomba (Atas), Tempat Penjualan Tiket Trolley Tours & Bagian dalam Trolley (Bawah)

Trolley yang akan saya naiki berangkat tepat jam 10.45 jadi waktu 15 menit yang saya miliki dimanfaatkan untuk beli tiket dan pesan Fish and Chip untuk bekal di jalan. Dengan waktu hanya 6 jam 15 menit tidak mungkin ke 29 tempat wisata bisa dijelajahi satu persatu jadi saya pilih hanya beberapa yang menurut referensi sangat bagus.

Apalagi menurut jadwal, trolley hanya datang setiap satu jam sekali jadi mau tidak mau kita harus menghabiskan minimal 1 jam di satu tempat wisata. Selain itu harus diperhitungkan juga waktu perjalanan dari satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain. Beberapa tempat berikut ini adalah tempat-tempat wisata yang bisa saya kunjungi waktu itu.

Rute Trolley Tour (Didalam Kotak adalah Tempat Wisata Yang Kami Kunjungi)

Leura Village

Tempat pemberhentian pertama yang saya jelajahi adalah Leura Village (pemberhentian no. 2 sampai 4) yang berjarak hanya 5 menit naik trolley dari Hotel Carrington sebagai tempat awal pemberangkatan. Kota kecil yang cantik ini terpusat di sekitar Leura Mall, sebuah jalan kembar sejauh 2.5 km yang ditengahnya dipisahkan oleh jajaran pohon Sakura. Di sepanjang The Mall terdapat toko, penginapan dan restoran yang desain bangunannya tetap mempertahankan ciri khas Leura sebagai Heritage Village.

Leura Mall

Diantara jajaran toko di Leura Mall ada beberapa toko yang menurut saya sangat menarik antara lain : The Candy Store, menjual hampir 1000 jenis permen, coklat, jelly, nougat dan segala macam manis-manis yang diimpor dari berbagai negara. Bentuk dan rasanya bermacam-macam dan unik ada rasa lavender, ekaliptus, kiwi, dengan bentuk kodok, kepala anjing, bunga.

Pokoknya buat ‘sweet tooth’ tempat ini wajib kunjung deh. Toko kedua adalah Renommee Recycled Designers and Vintage, menjual segala macam pernak pernik yang berbau Vintage. Selain keunikan barang-barangnya, suasananya yang cozy menarik orang untuk melihat-lihat bahkan yang tidak suka belanja seperti saya.

Tempat ketiga yang menarik perhatian bukanlah toko melainkan sebuah bangku biasa yang bertuliskan “Seat For Bored Husbands“. Mungkin bangku ini diperuntukkan bagi bapak-bapak yang kebosanan menunggu istrinya belanja :).

Bangku Unik dan The Candy Store

 

Bila capek window shopping, di ujung barat Leura Mall bersimpangan dengan Craigend St. terdapat Bloome Park, sebuah taman kecil dengan Playground dan bangku-bangku piknik. Sebuah tempat yang cocok untuk sekedar meluruskan kaki dan menghirup udara segar pegunungan.

Gordon Falls

Ketika Trolley tiba tepat pukul 11.50, kamipun melanjutkan perjalanan ke Gordon Falls (pemberhentian no.10) yang memakan waktu sekitar 15 menit. Sebenarnya diantara Leura Village dan Gordon Falls ada 2 tempat pemberhentian yang cukup menarik yaitu : Bygone Beauty, semacam Tearoom dan museum bagi segala macam perlengkapan minum teh, dan Everglades Garden, sebuh Heritage Garden bergaya Eropa tapi dengan tanaman khas Australia dengan pemandangan indah ke arah Jamison Valley.

Kami sengaja tidak berhenti di kedua tempat itu karena masalah waktu dan biaya. Di Everglades Glades tiket masuknya lumayan juga (AUD$10) dan walaupun di Bygone Beauty tiket masuknya gratis, waktunya tidak akan cukup untuk menjelajahi tempat tersebut.

Museum Bygone Beauty (Atas) dan Salah Satu Sudut Everglades Garden (Bawah) Photo By : Reilene and Ted Szukalski

Begitu turun di Gordon Falls, kami langsung mempelajari peta bushwalking yang terpampang besar di pojokan. Peta ini berisi berbagai macam informasi tentang rute-rute trekking yang berada di area tersebut lengkap dengan jarak dan tingkat kesulitannya. Bagi opa dan oma seperti kami sih pasti memilih yang enteng dulu yaitu Gordon Falls Lookout Walks yang berjarak 0.3 km pulang pergi dengan tangga setinggi 35 mt yang harus didaki dan dituruni.

Dari tempat ini memang terlihat air terjunnya (dibanding air terjun Indonesia ini mah cuma pancuran), tapi yang paling indah adalah pemandangan ke arah Mount Solitary, pohon-pohon di lereng Sublime Point dan bagian belakang formasi batu The Three Sister.

Gordon Falls Lookout dan Jalur Trekkingnya

Karena masih ada waktu, balik dari Gordon Falls Lookout kami mencari lagi rute jalan yang gampang. Menyeberangi lapangan piknik di Gordon Falls, ada rute trekking ke Pool of Siloam dengan jarak 0.6 km pulang pergi. Kali ini naik turunnya sekitar 68 mt. jadi kalau yang tadi peringkatnya easy yang ini sudah maju jadi moderate. Kebetulan waktu itu kami jalan duluan di depan serombongan keluarga yang terdiri dari seorang ibu dengan dua anak balita (usia 3 dan 5 tahun) dan sepasang kakek dan nenek lansia.

Si ibu menggendong anak terkecil dan sang kakek menuntun si 5 tahun. Pertama sih mereka ketinggalan jauh, kemudian pelan tapi pasti mulai menyusul persis di belakang dan tidak lama kemudian mulailah kami tersusul. Sebetulnya hati panas juga, masak kalah sama anak kecil dan orang tua, tapi sampai perjalanan pulangpun kami tetap tertinggal jauh dari mereka. wk..wk wk payah juga nih jalannya :).

Tempat Piknik di Gordon Falls, Pool of Siloam dan Jalur Trekkingnya

Di Pool of Siloam ini ada semacam kolam dan air terjun kecil yang menurut saya sih tidak sebanding dengan jalan kesananya. Mungkin karena terbiasa dengan air terjun Indonesia yang besar-besar, deras dan indah, jadi saya tidak begitu terkesan dengan air terjun yang ini. Tapi jalur trekkingnya tetap bagus untuk melatih kekuatan otot jantung dan kaki karena naik turunnya cukup lumayan juga.

Berada kembali lagi di lapangan piknik, kami mengejar-ngejar trolley yang lewat. Untung sopirnya berbaik hati mau menunggu walaupun sambil ngomel-ngomel karena dia juga punya jadwal yang harus ditepati. Jadi jam 1.05 pas, kami melanjutkan perjalanan ke Echo Point yang berjarak sekitar 20 menit dari Gordon Falls.

Echo Point

Echo point adalah tempat perhentian ketiga yang saya jelajahi. Setiap kunjungan ke Katoomba tidak afdol rasanya kalau belum mampir kesini. Terletak di ujung jalan Echo Point (perpanjangan dari Lurline St), tempat ini tidak hanya menawarkan pemandangan yang luar biasa. Tourist Centre-nya juga menyediakan semua peta dan informasi lengkap tentang Blue Mountain (walaupun ada beberapa petanya yang tidak gratis).

Dari tempat ini kita bisa memandang bebas ke Three Sisters, Mount Solitary, dan Jamison Valley yang luas. Kalau di laut terhampar air dan pasir, kalau disini lautan pohon yang kita lihat. Bagaikan samudera pepohonan yang luas tak berdasar dan bertepi.

Echo Point dan Lautan Pohon di Jamison Valley

Persis di sebelah kiri Echo Point terdapat Three Sister, formasi jajaran tiga batu yang paling terkenal di dunia. Terbentuk karena kikisan angin dan hujan, puncak tertingginya bernama Meehni (922 m), Wimlah (918 m), dan  Gunnedoo (906 m). Sebenarnya dulu terdapat tujuh jajaran tapi sayang 4 diantaranya sudah runtuh karena erosi.

Nun jauh di sebelah timur Three Sister terbentang Kings Tableland, sebuah tebing batu pasir mendatar sepeti “meja Tuhan” yang membentang luas dari Wentworth Falls sampai Jamison Valley.  Kemudian persis di depannya terlihat Mount Solitary dan Ruined Castle dengan hamparan lautan pohon di kaki gunungnya.

Panoramic View dari Three Sisters, King Tableland, Mount Solitary dan Ruined Castle

Dari Echo Point ini, banyak sekali rute jalan kaki dengan berbagai jarak dan tingkat kesulitan. Yang paling ngetop dan ingin sekali saya coba adalah The Three Sisters Footpath. Rute sejauh 1,2 km pulang pergi ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit kecepatan bule dengan tingkat kesulitan “Hard” (sulit) karena harus naik turun bagian atas dari Giant Stairway yang resmi dibuka sejak tahun 1932.

Titik mulanya berada di dekat Echo Point Visitor Information Centre (cari tanda menuju Giant Stairway) dan berakhir di gua kecil yang berada di bagian dasar Meehni, salah satu tebing Three Sister.

Three Sisters Foothpath (Photo By : Wildwalks.com)

Sayang saya tidak bisa menjajal rute ini karena hanya punya waktu 1 jam sebelum mengejar jadwal ke Scenic World yang tutup jam 5 sore. Jadi tepat jam 2.24 saya melanjutkan perjalanan ke destinasi berikut yang berjarak hanya 10 menit naik trolley.

Scenic World

Selain Echo Point, bisa dibilang Scenic World merupakan pemberhentian wajib kunjung bila main ke Katoomba. Bekas tambang batubara yang menjadi tempat wisata ini memiliki 5 pilihan atraksi dengan Scenic Railway dan Scenic Skyway sebagai highlight-nya. Sekali lagi karena alasan pengiritan, kami hanya mencoba 4 dari 5 atraksi dengan Scenic Railway sebagai atraksi utamanya. Website resmi dari Scenic World dapat diakses disini.

Sebagai peringatan tempat ini tutup jam 5 sore dengan last rides jam 4.50. Jadi kalau datang ke Katoombanya sudah siang lebih baik tempat pemberhentian ini didahulukan apalagi kalau tiketnya sudah dibeli bersamaan dengan paket Trolley Tours.

Scenic World

Setelah menukar voucher dari Trolley Tours dengan tiket resmi, kami mulai menjajal atraksi pertama yaitu Scenic Railway. Kereta berkapasitas 84 orang ini merupakan kereta dengan jalur tercuram di dunia. Dengan kemiringan 52 derajat di jalur sepanjang 310 meter, rasanya seru sekali naik kereta ini. Apalagi rutenya benar-benar alami, membelah hutan dan melewati jalur sempit Orphan Rock sehingga memberikan rasa yang berbeda dibanding naik roller coaster biasa.

Pada awalnya jalur kereta ini dibangun untuk mengangkut batubara saat tambang-tambang di Jamison Valley masih aktif beroperasi pada tahun 1880. Tapi dari tahun 1928 sampai 1945 mulai dicoba untuk mengangkut penumpang walaupun hanya di akhir pekan. Sejalan dengan ditutupnya tambang-tambang tersebut akhirnya sejak tahun 1945 tempat ini menjadi obyek wisata permanen bagi turis. Sayang waktu tempuh dari atas ke bawah hanya 4 menit jadi rasanya kurang puas :).

Scenic Railway (Photo By : Scenic World.com & Koleksi Pribadi)

Turun dari Scenic Railway, kami menuju arah kiri keluar dari area Scenic World untuk trekking sedikit ke arah Katoomba Falls Crossing. Yah itung-itung merasakan sedikit lautan pohon di Jamison Valley dan bagian tengah dari air terjun Katoomba. Jalur trekkingnya masuk dalam kategori mudah karena mendatar dan lebar tapi hawanya dingin karena pepohonan rapat menutupi sinar matahari.

Katoomba Fallsnya tidak begitu mengesankan tapi kami sempat duduk-duduk dan makan-makan di salah satu meja piknik yang tersedia sambil ditemani burung-burung liar yang tanpa takut makan Fish and Chips bersama kami.

Kedinginan Di Katoomba Falls

Dalam perjalanan pulang ketemu seorang ibu yang mengajak trekking anak bayinya. Tertarik dengan ransel gendongnya, kami minta ijin untuk mengambil foto. Untung si ibu tidak keberatan, jadi dengan ransel model begini memang tidak ada alasan untuk tidak mengajak si kecil jalan-jalan. Cuman kaki dan pundak memang harus kuat dan satu lagi bayinya mesti anteng.

Sayang Anak

Balik masuk kedalam area Scenic World, kami melangkah ke atraksi kedua yaitu Scenic Walkway. Jalur trekking melingkar sejauh 2.8 km ini semuanya ditutupi papan kayu sehingga memudahkan orang yang ingin jalan-jalan di dasar lembah Jamison Valley. Ada 3 jalur melingkar yang bisa dicoba. Jalur pertama dengan panjang 380 mt dengan durasi jalan 10 menit berawal dari stasiun akhir Scenic Railway ke stasiun bawah Scenic Cableway.

Rute kedua, melewati jalur Lilipilli Link dengan durasi 30 menit dan rute ketiga melintasi Yellow Robin Link yang berdurasi 60 menit. Di Yellow Robin ini terdapat Marangaroo Spring, sumber mata air alami pegunungan Blue Mountain, yang airnya bisa langsung diminum. Dari ketiga rute tersebut bisa ditebaklah mana yang kami pilih :).

Scenic Walkway

Di awal rute kita akan melewati Coal Mine Exhibition, semacam ruang pamer yang mendokumentasikan sejarah pertambangan batubara di tempat ini. Berbentuk seperti museum di area terbuka, kita bisa belajar sedikit seluk beluk pertambangan dengan tehnologi kuno. Benda yang pertama kali dipajang adalah Mountain Devil, replika kereta yang dulu dipergunakan untuk mengangkut batubara dan penumpang keatas.

Kereta ini merupakan cikal bakal dari Scenic Railway yang ada sekarang ini. Selain kereta juga terdapat replika kantor pertambangan dan alat-alat yang digunakan. Didepannya terdapat sebuah kereta perunggu lengkap dengan kuda, batubara dan pekerja tambangnya.

Mine Exhibition

Scenic Walkway jalur pendek berakhir di Scenic Cableway Bottom Station. Scenic Cableway ini berupa kereta gantung berkapasitas 84 orang tanpa tempat duduk dengan lintasan sepanjang 545 mt yang membawa penumpangnya naik kembali menuju Scenic Wold Top Station.

Sesampai di stasiun semula, kami menuju atraksi ke 4 yaitu Scenic Cinema yang tiket masuknya gratis bersamaan dengan pembelian tiket apa saja di Scenic World. Film yang diputar adalah film dokumenter tentang Blue Mountain dalam bentuk 3D.

Scenic Cableway

Satu atraksi yang belum saya coba adalah Scenic Skyway, semacam kereta gantung dengan dasar kaca yang membawa penumpangnya melintasi jalur sejauh 720 meter menyeberang dari Scenic World menuju stasiun dekat Echo Point Lookout. Jalurnya hanya mendatar, tapi sensasi menyeberang jurang dari ketinggian 270 meter di atas tanah melintasi Katoomba Falls dan hutan dibawahnya mungkin tidak bisa terkatakan. Andai saja tiketnya murah :).

Scenic Walkway dari luar dan dalam serta Katomba Falls yang dilaluinya (Photo By : Scenicworld.com)

Begitu keluar dari area Scenic World, hari sudah sangat sore. Tidak terasa hampir 2,5 jam kami habiskan di sini. Untung masih kebagian jadwal terakhir trolley yang lewat sekitar jam 5.35. Berikut peta Scenic World dan rute ekplorasi kami.

Carrington Hotel

Turun kembali di Carrington Hotel, sebelum menuju stasiun kereta api untuk pulang, kami mencoba menjelajahi hotel bersejarah ini walaupun hanya sampai taman di depannya. Sebagai hotel yang pertama kali dibuka pada tahun 1882, bisa dibayangkan hotel ini menjadi tempat persinggahan para elite Sydney yang ingin tetirah menikmati hawa pegunungan yang sejuk.

Kepopulerannya terus meningkat hingga tahun 1985 ketika hotel ini tutup dan dibiarkan kosong selama 6 tahun. Tahun 1998 hotel ini kembali dibuka setelah restorasi besar-besaran selama 8 tahun untuk memulihkan kembali masa kejayaannya dahulu.

Bagian Luar & Dalam Hotel Carrington (Photo By : thecarrington.com & Koleksi Pribadi)

Akhirnya kami mengakhiri kunjungan sehari ke Katoomba dengan naik kereta jam 6.24 ke Sydney Central. Sebenarnya banyak sekali hal-hal lain yang masih ingin saya lakukan di kota ini. Insyaallah kalau diberi kesempatan sekali lagi, saya ingin menginap dan menyaksikan Echo Point di malam hari (konon malam hari juga indah dengan banyak lampu spotlight yang mengarah ke Three Sisters), menyusuri Giant Stairways dan naik Scenic Skyway.

Echo Point dan Three Sisters Di Waktu Malam

Sesampai di Sydney Central dua jam kemudian tentu saja penjualan tiket di kantor Sydney Coach Terminal sudah tutup. Padahal rencananya besok mau ambil bis paling pagi menuju Canberra, menghabiskan seharian disana sebelum malamnya melanjutkan perjalanan ke Melbourne. Kalau tiket dari Sydney ke Canberra sih gampang didapat, yang susah didapat adalah tiket dari Canberra ke Melbourne untuk hari yang sama.

Mungkin karena kami perginya di hari Sabtu jadi rata-rata tiket bisnya sudah habis. Terpikir juga beli online walaupun harganya lebih mahal. Tapi malang juga, waktu mampir ke persewaan internet yang punya printer, kami malah diusir sama penjaganya karena sudah mau tutup. Baru ngeh kalau persewaan internet disini tidak buka 24 jam (emang Indonesia) :).

Fasilitas Internet Di Sydney Central YHA (sayang tidak ada printernya)

Sebelum tidur, sempat ngobrol dengan teman sekamar yang sudah pernah ke Canberra. Worth it kah pergi kesana?, pendapatnya sih hampir mirip dengan pendapat saya. Kalau untuk 1 sampai 2 hari masih oke tapi kalau lama-lama jangan. Canberra adalah kota pemerintahan bukan kota wisata jadi kamu akan boring..boring (dengan logat Cinta Laura) kalau lama-lama disana.

Tapi Canberra adalah ibu kota Australia kan, jadi sudah semestinya kalau pergi ke Australia mesti mampir ke Canberra apalagi kalau sudah dekat seperti ini, Gitu katanya :). Tapi yah sutralah, kalau Allah mentakdirkan saya untuk melihat Canberra pasti akan kesampaian, kalau tidak yah berarti belum waktunya. Dengan pikiran seperti itu akhirnya saya bisa tidur dengan tenang menyongsong ketidakpastian besok paginya.

Biaya Hari Ke-4

© 2017 Amazing Malang - Amazing Malang Your Adventure