Balai Kota Malang
Malang, Jawa Timur
Gunung Bromo
Jawa Timur
Pantai Tiga Warna
Malang, Jawa Timur
Soto Geprak Mbah Djo
Malang, Jawa Timur
Museum Angkut
Batu, Jawa Timur

 

Hari Ke 8 : Melbourne (Queen Victoria Market)

Oleh : Vicky Kurniawan

Our last day in Australia. Besok pagi-pagi sudah harus check out dan terbang ke Kuala Lumpur dilanjutkan penerbangan ke Surabaya. Seperti biasa perasaan campur aduk antara kangen rumah dan keinginan untuk mengeskplor Australia lebih lama.

Tapi duit sudah makin menipis dan kangennya juga makin membesar, jadi ikhlas saja untuk terbang pulang :).

Hari terakhir ini kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk melihat tempat-tempat yang tersisa dari daftar itinerary. Start jam 8 keluar dari hostel, hal pertama yang kami lakukan adalah jalan kaki ke Southern Cross Terminal untuk mengecek tempat Skybus yang akan membawa kami ke Melbourne Airport yang dikenal juga sebagai Tullamarine Airport. Jadi kalau besok bangun kesiangan tidak stress lagi karena masih harus mencari pangkalan bisnya.

Webb Bridge, Melbourne Docklands (Photo By : Stuart Westmore)

Ternyata untuk menemukan bis ini caranya gampang saja, tinggal ikuti petunjuk jalan bertuliskan Airport Express Shuttle sudah sampai deh di loket dan pangkalannya. Setelah menemukan Skybus, kami membeli kartu Metro Card (Metcard) karena berencana untuk pergi seharian menggunakan trem dan kereta sampai ke St. Kilda dan Williamstown.

Kartu yang dibeli adalah Metcard Daily Zone 1 yang harganya lumayan juga (AUD$7.60). Dengan kartu ini kita bisa bebas seharian naik bis, trem dan kereta di area Zona 1 yang wilayahnya cukup luas membentang dari Melbourne CBD sampai Brighton . Lebih jauh tentang transportasi di Melbourne dan seluk beluk kartu Metcard dan Myki dapat dilihat disini. 

Kotak Journey Planner di website ini sangat berguna untuk membantu menentukan alat transportasi apa yang sebaiknya digunakan bila ingin pergi ke suatu tempat. Hasilnya juga sangat jelas karena dilengkapi dengan peta dan waktu tempuh.

Queen Victoria Market

Tujuan pertama kami hari ini adalah Queen Victoria Market, salah satu landmark dan pasar paling terkenal di Melbourne. Dikenal juga sebagai Queen Vic Markets atau Vic Market, pasar yang sudah berusia 134 tahun ini (didirikan tahun 1878) dinamai sesuai nama ratu Victoria yang memerintah Inggris dari tahun 1837 sampai 1901.

Dengan luas sekitar 17 hektar, Vic Market merupakan pasar terbuka terbesar di daerah Selatan. Penjualnya saja sudah mencapai kurang lebih 1000 orang, makanya kurang afdol kalau pergi ke Melbourne tapi tidak berkunjung ke sini.

Bagian Depan Queen Victoria Market

Pasar ini sebenarnya bisa dicapai dengan menggunakan Tourist Shuttle Bus Gratis yang berhenti persis di depannya. Tapi karena bis gratisnya baru beroperasi jam 09.30 kami memutuskan pergi naik kereta dan trem. Toh sudah punya Metcard Daily yang sayang kalau tidak digunakan secara maksimal. Rute naik kereta dan trem dari Southern Cross Terminal adalah sebagai berikut :

  • Dari Southern Cross Terminal → naik Metro Train (arah Blackburn) di platform no. 10 menuju Flinders Street Railway Station → Jalan kaki keluar stasiun ke pangkalan trem di pojokan Elizabeth Street → naik Metro Tram no. 19, 57 atau 59 → turun di pemberhentian ke 7 Queen Victoria Market/Elizabeth St.

Rute Menuju Queen Victoria Market Dari Stasiun Flinders Street

Begitu turun di pasar ini, saya begitu terkesan dengan kebersihan dan keaneka ragaman barang yang dijual. Dibagi menjadi 10 bagian atau precint, hampir semua barang dijual disini, mulai dari bahan masakan segar sampai souvenir, baju sampai alat-alat keperluan rumah tangga. Tempat favorit saya adalah The Deli Hall yang menjual berbagai macam daging dan sosis termasuk daging buaya dan kangguru (Kalau di Indonesia kangguru disayang-sayang dimasukkan kebun binatang.

Kalau disini sudah kayak ternak ayam aja. Pantesan Australia lambangnya Kangguru :).), keju (lokal dan impor), berbagai macam bumbu dapur dan khusus buat sweet tooth ada berbagai macam cakes, pastries, nougat dan coklat.

Suasana Queen Victoria Market

Satu lagi yang menjadi ciri khas pasar ini adalah hot doughnut van yaitu warung mobil yang khusus berjualan jam donuts (donat selai) yang enak banget dimakan hangat-hangat sambil keliling pasar. Kabarnya kebiasaan menjual Jam Donuts di mobil sudah berjalan lebih dari setengah abad dan menjadi tradisi lokal di pasar ini.

Hot Doughnut Van

Bagi yang ingin berbelanja souvenir bisa mampir di General Merchandise Stalls. Harga souvenir disini lebih murah daripada di Paddy’s Market, Sydney. Tapi soal keaneka ragaman jenis souvenir, Paddy’s memang lebih unggul. Bila ingin berkunjung ke pasar ini jangan lupa catat hari dan jam bukanya karena tidak setiap hari buka.

Trading Hours dan segala info tentang Queen Victoria Market bisa dilihat disini.

St. Kilda

Begitu keluar dari Queen Victoria Market dapat sms dan telepon menyenangkan dari mbak Dini sesama member grup Backpacker Dunia yang tinggal di Melbourne. Sebelum berangkat ke Australia saya sudah berjanji kalau masing-masing ada waktu kita akan kopi darat di Melbourne. Karena rumah mbak Dini yang lebih dekat dengan St. Kilda jadi kita janjian ketemu disana. Kota St.

Kilda yang berjarak 6 km dari Melbourne ini terkenal dengan pantai, jajaran pohon palem dan sunsetnya. Pernah menjadi tempat peristirahatan warga kaya kota Melbourne sampai pernah terdegradasi menjadi daerah red-districtnya, kota ini juga menjadi rumah bagi berbagai macam kelompok subkultur seperti Punk, Techno dan LGBT. Rute naik tram ke kota ini adalah sebagai berikut :

  • Dari Queen Victoria Market → jalan kaki sekitar 400 mt melewati Therry Street ke halte no. 7-RMIT University/Swanston St → naik Metro Tram no. 16 (arah Kew) → turun di pemberhentian no. 138 Luna Park/The Esplanade St. Kilda.

Rute Jalan Kaki dari Queen Victoria Market ke Halte Trem menuju St. Kilda

Ada 2 tempat di St.Kilda yang saya kunjungi. Yang pertama adalah Luna Park, theme park pertama dan tertua di Melboune. Dibuka dari tahun 1912, pintu gerbangnya sangat unik berbentuk Mr. Moon dengan mulut terbuka lebar yang seolah-olah menelan semua pengunjung (sama dengan Luna Park Sydney). Tiket masuknya gratis tapi kalau mau naik wahana baru bayar.

Harga tiket terusan maupun single ridenya cukup mahal, untuk single ride AUD$ 9.95 dan terusan AUD$43.95. Kalau dikurs bisa lebih mahal daripada tiket Universal Studio Singapore dengan kualitas theme park yang tidak sampai seperempat USS. Suasana dan wahananya benar-benar old style dan menurut pendapat saya malah lebih bagusan Dufan daripada theme park ini.

Tapi herannya theme park ini begitu terkenal sampai-sampai saya penasaran ingin tahu bagian dalamnya :). Bila ingin berkunjung ke theme park ini coba cek jadwal bukanya di sini.

Luna Park Melbourne dan Beberapa Wahananya

Setelah puas melihat-lihat Luna Park (tidak naik wahana), kami jalan kaki menuju St. Kilda Foreshore (St. Kilda Esplanade) yang dekat dengan theme park ini. Disini ada jajaran pohon palem dengan pantai berpasir putih dan ombak yang kecil . Cocok untuk berjemur menikmati suasana pantai yang tenang sambil melihat-lihat langit yang biru dan awan yang berarak.

Di Esplanade inilah saya akhirnya bertemu dengan mbak Dini. Serasa bertemu kenalan lama, kami langsung akrab dan sehabis ngobrol-ngobrol sejenak, mbak Dini membawa kami ke Brighton Beach dengan mobilnya.

Acland Street (Kanan Atas), St. Kilda Beach (Kiri Atas), St. Kilda Pier (Kanan Bawah), The Esplanade (Kiri Bawah)

Sebenarnya selain menjadi tempat favorit untuk melihat sunset, St. Kilda juga menjadi tempat favorit untuk melihat penguin di habitat alamnya. Tidak usah jauh-jauh ke Phillip Island, di St.Kilda Pier (tidak jauh dari St. Kilda Foreshore) dibangun sebuah breakwater (pemecah ombak) yang menjadi rumah bagi satu koloni penguin yang jumlahnya mencapai 1000 ekor.

Jenisnya adalah blue penguin atau fairy penguin yang merupakan jenis penguin terkecil di dunia. Jadi kalau mau liat penguin dengan gratisan datang saja ke St. Kilda Pier setelah sunset. Tapi ada beberapa aturan melihat penguin yang harus ditaati, pertama, pada saat memotret tidak boleh menggunakan lampu blitz. Kedua,  jangan berisik dan jangan menyentuh penguinnya. Seluk beluk tentang St.

Kilda Penguin dapat dilihat disini. Kalau ingin melihat penguin sambil berolahraga bisa mengikuti Sunset Eco Penguin Tour. Tur berbayar yang menawarkan melihat Penguin sambil berkayuh di Paddleboard, tapi berkayuhnya sambil berdiri lho karena yang dipakai adalah Paddleboard Standing Up. Informasi tentang Sunset Eco Penguin Tour bisa diklik di website ini.

Peta St. Kilda

Brighton Beach

Berjarak sekitar 8 km dari St.Kilda, tempat ini dapat dicapai dengan Metro Tram disambung dengan Metro Train dan sedikit jalan kaki (lihat journey planner untuk detailnya). Mengklaim dirinya sebagai pantai terbersih sepanjang teluk Port Phillip, Brighton Beach sangat terkenal dengan jajaran Bathing Box yang dicat warna-warni dan sudah ada di tempat itu sejak tahun 1862. F

ungsi utamanya adalah sebagai tempat perlindungan dari cuaca, tempat ganti baju dan tempat penyimpanan berbagai barang. Tapi fungsi sosialnya juga ada yaitu untuk meningkatkan status karena tidak sembarang orang bisa memiliki bathing box.

Brighton Beach dan Jajaran Bathing Box-nya

Harga bath-box berukuran 2×2 mt ini ditentukan oleh harga lelang dengan rekor tertinggi sampai saat ini sebesar AUD$ 260.000. Karena tanahnya dimiliki oleh Bayside City Council, maka pemilik Bath-box juga harus membayar ijin tahunan (annual licences’ fee) sebesar AUD$ 600. Pemilik bathing box akan masuk dalam kumpulan asosiasi Bathing Box Brighton yang akan mengatur ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan kepemilikannya.

Walaupun sudah mengeluarkan uang sekian banyak, pemilik bath-box tidak bisa seenaknya mengecat atau merubah kontruksinya. Mulai dari warna cat, corak dan bentuknya harus sesuai dengan pedoman yang telah disusun oleh Bayside City Council dan the Brighton Bathing Box Association. Maklum saja karena bath-box ini juga menjadi Cultural Asset bagi daerah setempat.

Dasar jiwa pedagang, begitu melihat jajaran kotak Bathing Box suami saya sudah berangan-angan bisa menyewa satu dan dijadikan tempat jualan es krim disana :).

Melbourne Central & Makanan Halal

Dari Brighton Beach, mbak Dini membawa kami makan siang di Melbourne Central. Ternyata susah juga cari tempat parkir di seputaran Melbourne Central terutama saat jam-jam makan siang dan tarif parkirnya juga mahal. Tarif parkir perjam AUD$ 5-10 jadi kalau mau ngirit segala urusan harus diselesaikan dalam waktu 1 jam dan mesti paham waktu-waktu parkir yang gratis.

Wedew, jadi ngeh kenapa mbak Dini jalannya ngebut banget, lama hidup di Melbourne jadi terbiasa semuanya serba gesit dan cepat tidak seperti saya yang lelet dan lambat. Kalau saya yang hidup disini mungkin mobil saya sudah diderek ratusan kali karena melanggar jam parkir :).

Mesin Tiket Parkir

Di Melbourne Central ini kami makan di Food Court yang terletak di Level 2. Selagi makan kita banyak berdiskusi soal makanan halal. Di Australia ada beberapa badan yang berhak mengeluarkan sertifikat halal diantaranya adalah : Australian Halal Food Services Trusts (AHFS), Halal Certification Authority Australia (HCAA) dan The Australian Federation of Islamic Councils Inc (AFIC).

Jadi kalau mau mantap cari saja restoran yang mencantumkan logo-logo mereka. Tapi masalahnya ada beberapa restoran di Melbourne yang walaupun tidak jelas-jelas mencantumkan tulisan halal sebenarnya sudah bersertifikat halal. Restoran-restoran tersebut antara lain Nando’s, Lord of The Fries, Krispy Kreme Melbourne, Burger Edge dan beberapa restoran KFC dan Mc Donalds (hati-hati tidak semua KFC dan McD di Melbourne bersertifikat halal).

Untuk restoran KFC dan McD walaupun sudah bersertifikat halal tidak semua menu yang disajikan tergolong halal, jadi kita harus melihat di sertifikatnya menu apa saja yang masuk dalam kategori halal. Lebih jauh tentang daftar restoran halal di Melbourne dapat dilihat di website Halal Square berikut ini.

Beberapa Logo Badan Yang Mengeluarkan Sertifikat Halal dan Contoh Sertifikatnya

Untuk daging kangguru, ada beberapa pendapat yang mengatakan kalau daging kangguru itu halal karena kangguru adalah herbivora, tapi kembali lagi pada cara memotongnya, kalau tidak secara islami ya tidak halal, dan mbak Dini belum pernah menemukan butcher halal yang menjual daging kangguru di Melbourne. Heh, jadi nggak kesampaian ngicipin daging kangguru :).

Pertama kali makan di Food Court Melbourne jadi berasa udik banget. Karena sehabis membayar (Mbak Dini nih yang mentraktir, thank’s ya mbak. Kalau nggak dibayarin masih mikir-mikir mau makan di Food Court) kita diberi semacam kotak segiempat dengan beberapa titik lampu didalamnya.

Apaan nih? ternyata kotak itu semacam penanda, kalau makanan yang kita pesan sudah siap lampu-lampu di kotak tersebut akan menyala yang berarti kita harus pergi ke kounter untuk mengambilnya. Seperti biasa porsi yang disajikan sangat banyak, jadi makanan yang tidak habis dibungkus untuk makan malam.

Ruangan Food Court Melbourne Central Yang Artistik (Atas, Photo By : Gourmesse.com), Alarm Pemanggil (Kiri Bawah), Stand Simply Thai tempat kita memesan makanan (Kanan Bawah)

Setelah makan siang kami kembali ke tempat parkir dan berpisah disana. Sebelum say goodbye mbak Dini memberikan oleh-oleh berupa kue-kue khas Australia. Menurut dia sebenarnya tidak ada yang namanya kue-kue khas Australia. Tapi saya pikir Lamington Cake dan Pismaniye yang diberikan enak juga dan pas sekali kalau dibuat alternatif oleh-oleh.

Beberapa makanan yang menjadi ikon Australia dan cocok untuk dijadikan oleh-oleh antara lain : Lamington, saking populernya kue ini sampai ada National Lamington Day di Australia. Bentuknya sederhana tapi rasanya mak nyuss. Lamington sebenarnya adalah sponge cake segiempat berbalut coklat yang ditaburi parutan kelapa kering. Biasanya disajikan dalam 2 tumpukan dengan cream atau selai strawberry sebagai lapisannya.

Lamington

Anzac Biscuits, sekilas bentuknya mirip dengan cookies coklat biasa tapi sebenarnya bahan utamanya adalah oat (gandum) dengan kelapa kering. Diberi nama Anzac karena biskuit ini biasanya dikirimkan oleh para istri tentara Australian and New Zealand Army Corps (ANZAC) kepada para suaminya yang sedang berperang selama PD I.

Biskuit ini sangat tahan lama karena tidak mengandung telur dalam resepnya sehingga cocok bila harus dikapalkan selama beminggu-minggu. Maklum saat itu sedang terjadi krisis telur di Australia karena perang. Saat ini Anzac Biscuits sudah dibuat secara pabrikan untuk dijual kepada masyarakat umum.

Biskuit Anzac

Vegemite, kalau yang ini berbentuk olesan terbuat dari ekstrak Yeast dicampur dengan sayuran dan gandum. Rasanya asin, sedikit pahit tapi sedap cocok untuk dioleskan di Sandwhich, roti panggang dan biskuit asin.

Selain makanan-makanan diatas ada beberapa candy bar yang juga menjadi iconic food antara lain : Violet Crumble (coklat bar rasa madu), Cherry Ripe (coklat rasa cherry), Jaffas (coklat rasa jeruk) dan Tim Tams yang rasanya beda dengan Tim Tams produk Indonesia

Jaffa (Kiri atas), Cherry Pie (Kanan Atas), Vegemite (Kiri Bawah), Violet Crumble (Kiri Bawah)

Williamstown

Dari depan Melbourne Central kami naik trem gratis kembali ke hostel untuk Sholat Dhuhur sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota Williamstown yang terletak sekitar 8 km sebelah selatan Melbourne. Rute kereta menuju kota ini sebagai berikut :

  • Dari hostel jalan kaki ke Southern Cross Terminal → naik Metro Train di platform no. 14 menuju Williamstown → turun di Williamstown Beach Railway Station → jalan kaki melewati Forster Street menuju Williamstown Esplanade.

Rute Metro Tram dari Southern Cross ke Williamstown Beach

Sebenarnya selain dengan kereta, kota ini lebih asyik lagi kalau dikunjungi dengan ferry. Ferry menuju Williamstown dikenal dengan nama Williamstown Ferry yang mangkal di Berth No. 1 Southgate Promenade yang berada di seberang Flinders Street Station. Walaupun perjalanan yang ditempuh durasinya lebih lama dari kereta (kurang lebih 1 jam), pemandangan yang didapat akan jauh lebih menarik karena dari atas ferry kita bisa menikmati keindahan Melbourne’s city skyline.

Sayangnya, dengan alasan penghematan saya tidak memilih opsi ini. Website resmi Williamstown Ferry dapat dilihat disini.

Williamstown Ferry di dermaga Federation Wharf

Begitu turun dari kereta, jam menunjukkan pukul 16.30 sore. Kalau di Indonesia mungkin waktu yang tepat bagi anak-anak untuk keluar rumah sehabis mandi dan para orang tua siram-siram bunga di taman. Tapi saat saya menyusuri Forster Street menuju Esplanade tidak ada tuh anak-anak main di luar. Suasananya benar-benar sepi hampir mirip dengan suasana di film-film Alien yang semua penduduknya dihisap kedalam kapal dan hanya meninggalkan rumah-rumah yang kosong.

Tapi satu yang membuat saya sangat terkesan adalah rumah-rumahnya yang cantik. Arsitektur luarnya terkesan kuno dengan beranda yang cozy dan pohon mawar yang hampir ada di setiap rumah. Rata-rata mereka menggunakan pagar kayu yang membuat penampilan rumah-rumahnya seakan keluar dari gambar-gambar indah di kartupos.

Rumah-Rumah Di Williamstown

Sesampai di Esplanade, kami duduk-duduk di pantainya yang berpasir putih halus sambil melihat burung-burung camar yang berenang-renang disekitar tempat itu. Banyaknya burung Camar menandakan banyak ikan, tapi tidak kelihatan ada orang memancing ikan-ikan disitu :).

Pantainya sepi sekali hanya kami berdua, burung-burung camar dan matahari yang sebentar lagi terbenam. Benar-benar momen yang sempurna untuk menutup hari, sore yang tenang di pantai yang tenang.

Matahari Terbenam di Williamstown & Pantai yang Penuh Burung Camar

Ketika matahari hampir tenggelam, kami melanjutkan perjalanan menyusuri The Esplanade sampai ke Williamstown Dressing Pavilion yang masuk dalam daftar bangunan cagar budaya di Williamstown. Bangunan yang didirikan tahun ini 1936 dianggap menarik karena merupakan satun-satunya bangunan dengan gaya Eropa Modern disekitar  tempat itu.

Saat ini pavilion tersebut juga dimanfaatkan sebagai restoran dan bistro, The Sirens, yang konsepnya lebih pada fine dining. Menurut saya bagian yang paling unik dari bangunan ini adalah penanda di ruang ganti pakaian untuk wanita dan pria. Gambarnya lain daripada yang lain dan cukup menarik perhatian.

Williamstown Dressing Pavilion dan Tanda Di bagian Tempat Gantinya

Dari gedung ini, kami masuk ke area Hatt Reserve dan Cyrill Curtain Reserve. Di taman ini banyak sekali orang berolahraga ditemani anjing-anjing mereka. Rupanya kawasan ini merupakan kawasan ramah anjing karena tersedia area untuk “unleash dog” artinya anjing diperbolehkan untuk berlari-lari tanpa tali kekang.

Taman ini memiliki pemandangan yang cukup menarik pemandangannya karena di satu sisi ada laut dan disisi lain ada taman hijau dengan lapangan yang luas membentang.

Suasana Senja di Hatt Reserve dan Cyrill Curtain Reserve

Dari Area Hatt Reserve, kami berjalan kembali ke Esplanade dan masuk ke area Williamstown Botanic Garden. Taman yang berusia 152 tahun ini desainnya hampir mirip dengan Fitzroy Garden karena didesain oleh orang yang sama yaitu Edward Latrobe Bateman.

Dibangun murni dengan sumbangan dana masyarakat setempat pada saat itu, kebun ini dipercaya sebagai botanical garden terlengkap di wilayah Victoria pada masanya.

Williamstown Botanical Garden

Keluar dari Botanical Garden kami berjalan kembali menyusuri Osborne Street menuju stasiun kereta Williamstown Beach. Saat itu sebenarnya jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh malam tapi suasana di stasiunnya sepi sekali, hanya kami berdua yang duduk disitu menunggu kereta.

Benar-benar serasa dunia milik berdua. Sempat ragu juga jangan-jangan kereta ke Melbourne sudah tidak ada lagi, wong penumpangnya saja hanya berdua. Akhirnya pada jam yang telah ditentukan keretanya datang juga dan setelah perjalanan selama 30 menit sampai juga di stasiun Flinders Street. Rute jalan kaki kami di Williamstown dapat dilihat pada peta dibawah ini.

Rute Jalan Kaki di Williamstown

Federation Wharf

Terletak persis di belakang Federation Square, Federation Wharf ini merupakan tempat yang ideal untuk sekedar bersantai menikmati keindahan sungai Yarra dan Melbourne Waterfront di waktu malam. Di sepanjang pinggiran sungainya terdapat tempat untuk duduk-duduk dan jalur untuk jalan kaki, bersepeda dan berolahraga. Bila punya uang lebih bisa kongkow-kongkow di cafe yang banyak terdapat disekitar tempat itu, tapi kalau berdompet pas-pasan seperti saya cukup duduk-duduk ditepi sungainya saja :).

Sambil nongkrong kami memperhatikan orang-orang yang berlatih kayak di sungai Yarra. Salut banget, dalam cuaca sedingin ini masih semangat latihan. Tapi yang paling mengesankan adalah pemandangannya, pantulan gemerlap lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi di sepanjang sungai Yarra dipadu dengan lampu-lampu dari jembatan Princess Bridge membuat tempat ini menjadi spot yang bagus untuk difoto.

Federation Wharf dan Cafe di Pinggirannya

Melbourne Docklands

Setelah menikmati keindahan malam di tepi sungai Yarra, kami berjalan kedepan persimpangan antara Elizabeth Street dan Flinders Street untuk naik Metro Tram no. 35 (arah Spring Street) menuju pemberhentian Docklands Park/Harbour Esplanade. Sejak tahun 1880, Melbourne Docklands berfungsi sebagai pelabuhan utama di Melbourne. Bahkan dimasa perang pelabuhan ini juga memegang peranan penting sebagai pangkalan kapal-kapal angkatan laut.

Tapi dengan adanya kontainerisasi maka sekitar tahun 90-an, pelabuhan ini tidak difungsikan karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menerima kapal berkontainer. Sempat menjadi daerah yang tidak terurus, sejak tahun 2000 kawasan ini dibangun kembali dan dialih fungsikan menjadi daerah hiburan, olahraga dan perkantoran.

Melbourne Docklands ini meliputi satu daerah yang sangat luas dan terbagi menjadi beberapa area. Yang kami datangi malam ini hanya sebagian kecil area. Begitu turun di pemberhentian Docklands Park, kami berjalan kaki sedikit ke Webb Bridge. Jembatan unik untuk pejalan kaki dan pesepeda ini menghubungkan daerah pemukiman di Yarra’s Edge dengan Docklands.

Dibentuk mirip dengan jebakan belut suku Koori (salah satu suku aborigin), jembatan ini memanfaatkan jalur kereta Webb Rail Bridge yang sudah tidak terpakai lagi.

Bagian Dalam Webb Bridge

Setelah puas mengamati konstruksinya yang unik dan menikmati pemandangan dari atasnya kami berjalan menyusuri Docklands Park, menuju Victoria Harbour yang penuh dengan cafe dan restorant. Dari tempat ini kami berjalan sepanjang Harbour Esplanade yang terletak persis di depan Etihad Stadium menuju Central Pier, tempat beberapa gudang tua yang sudah disulap menjadi restorant dan cafe.

Dari Central Pier jalan terus menuju daerah New Quay, yang lagi-lagi didominasi oleh cafe dan restoran. Tapi lumayanlah dari New Quay Promenade kita bisa menikmati keindahan Etihad Stadium dari kejauhan dan jajaran yacht di marinanya. Menyusuri New Quay sampai juga di Waterfront City, yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan dan hiburan.

Dulu disini sebenarnya ada komidi putar raksasa semacam Singapore Flyer atau London Eye yang dinamakan The Southern Star. Tapi karena kesalahan konstruksi, 40 hari setelah dibuka komidi putar ini ditutup kembali. Didalam area ini juga terdapat tenda sirkus raksasa yang menjadi tempat penyelenggaraan acara the International Circus Spectacular.

Di sekelilingnya juga terdapat beberapa patung perunggu dari artis-artis Australia seperti Kylie Minogue dan Graham Kennedy.

Melbourne Docklands

Hari sudah sangat malam dan jalanan mulai sepi ketika kami memutuskan pulang ke hostel. Sebenarnya masih ada satu tempat di Docklands yang ingin sekali saya kunjungi yaitu Melbourne Central City Studios yang terletak persis di belakang Waterfront City.

Dapat dijangkau dengan menggunakan bis gratis Tourists Shuttle, kompleks studio film ini menjadi tempat syuting pembuatan film Ghost Rider 1 yang dibintangi oleh Nicholas Cage. Rute naik Metro Tram ke Hostel gampang saja, dari pemberhentian Waterfront City/Docklands Drive naik Metro Tram no 35 (arah Docklands atau nomor 70 (arah Wattle Park) turun di halte Spencer Street/Flinders Street yang terletak persis di samping hostel.

Rute jalan kaki dan naik Tram di seputaran Docklands dapat dilihat pada peta di bawah ini.

Rute Jalan Kaki di Melbourne Docklands (Garis Berwarna Biru)

Biaya Hari Ke – 8

© 2017 Amazing Malang - Amazing Malang Your Adventure